Latest Entries »

Gaya Baru Sandhy Sondoro

Pendatang baru yang cukup memberikan warna baru dalam kancah musik Indonesia dan diperkirakan akan mempunyai nama kelak dengan warna vokal dan karya musiknya yang tampil kali ini dalam Axis Java Jazz Festival 2010 ini adalah Sandhy Sondoro.

Panitia sepertinya cukup jeli untuk mencari dan menampilkan musisi baru yang mempunyai warna dan digemari oleh kalangan muda. Seperti contohnya Maliq & D’Essentials diawal mulainya festival ini tahun 2005 dan RAN yang ketika tampil pertama kalinya difestival ini hanya mempunyai satu lagu hits.

Sandhy Sondoro, sedikit banyaknya mempunyai warna yang sama dengan kedua nama diatas. Namun bukan hanya itu, ciri khas vokalnya yang serak namun bertenaga itulah yang membuat warna baru dan cukup menarik perhatian penikmat musik tanah air. Meski tergolong musisi baru, penampilannya pada hari pertama Axis Java Jazz Festival 2010 dipanggung Dji Sam Soe yang disetting seperti cafe terbilang sukses. Hal ini tentunya tak lepas dari seabrek pengalamannya didunia musik.

Mengawali karirnya sebagai seorang pengamen jalanan di Jerman 14 tahun silam, pengalaman itulah yang mengantarnya menjadi penyanyi cafe dan festival di Eropa. Tak heran jika melihat jam terbangnya didunia musik menjadikannya begitu luwes ketika harus tampil memainkan gitar akustik bersama band pengiringnya dihadapan banyak penonton.

Suasana di panggung Dji Sam Soe malam itu ramai oleh penonton yang mengantri bergiliran memasuki stage indoor dengan kapasitas penonton sangat terbatas tersebut. Beberapa lagu yang ia nyanyikan seperti  ’Malam Biru’, ‘Down on the streets’, ‘Superstar’ dan ‘End of the Rainbow’. Suaranya yang kadang terdengar serius dengan nuansa ‘soul’, namun kadangkala juga terdengar spontan tinggi dengan nada falsetto. Kesemuanya itu tentunya dikemas dalam gabungan musik pop creative, R&B, soul & jazz, plus lirik percintaan ala anak muda sekarang. Hingga mendapati suatu kesimpulan, penampilan yang menarik.

http://www.wartajazz.com/festival/2010/03/18/gaya-baru-sandhy-sondoro/

Beatbop Project

Satu lagi warna baru yang hadir pada ajang Axis Java Jazz Festival 2010 malam itu (06/03) di Outdoor Stage. Sebuah kolaborasi dari funk, hip hop dan jazz yang digawangi oleh Indra Aziz, Riza Arshad, Indra Perkasa, Jevin Julian dan Billy Tamnge a.k.a BdaBX. Jika dilihat dari sepak terjang yang pernah mereka lakukan, masing-masing personel mempunyai warna yang berbeda-beda.

Indra Aziz adalah seorang vokalis dan saxophonist yang juga aktif sebagai dosen vokal di UPH Karawaci dan sebagai head of vokal department Institut MusikIndonesia.

Indra Perkasa seorang komposer, arranger, dan pemain double-bass. Ia menyelesaikan studinya di IMDI dan melanjutkan studi film-scoring di California, A.S. Saat ini Indra aktif mengajar di IMDI dan juga sibuk dengan berbagai proyek film.

Billy Tamnge a.k.a BdaBX adalah beatboxer kelahiran Papua. Billy adalah salah satu pendiri komunitas Indobeatbox bersama Tito a.k.a Titz G Fade 2 Black dan teman-teman chief lainnya di Indobeatbox. Saat ini selain aktif mempromosikan beatbox ke seluruh nusantara, ia juga aktif bernyanyi dalam paduan suara.

Beatbox merupakan salah satu bentuk seni yang lebih fokus kepada menghasilkan bunyi-bunyian ritmis dan ketukan drum, instrumen musik, maupun tiruan dari bunyi-bunyian lainnya, khususnya suara turntable, melalui alat-alat ucap manusia seperti mulut, lidah, bibir, dan rongga-rongga ucap lainnya.

Jevin Julian adalah drummer jazz yang belajar di IMDI. Selain itu Jevin juga adalah seorang beatboxer handal, salah seorang pelopor diIndonesia, dan juara beatboxing competition.

Terakhir adalah Riza Arshad, seorang komposer dan pianis yang sudah tidak asing lagi bagi dunia jazzIndonesia. Riza Arshad merupakan motor dari grup simakDialog dan Trioscapes. Ia juga seorang pengajar masterclass jazz di IMI, selain juga sebagai kurator program Serambi Jazz.

Beatbop project merupakan project pertama mereka, walaupun mereka beberapa kali pernah bersentuhan dalam beberapa proyek, namun baru dalam Beatbop project inilah mereka dapat berkolaborasi secara langsung.

Kolaborasi yang sungguh terbilang jarang, bahkan mungkin belum pernah ada di Indonesia sebelumnya, dimana beatbop yang terdengar lebih condong ke genre musik elektronik lebih dominan seringkali digabungkan dengan genre musik rock, pop dan R&B, namun kali ini digabungkan juga dengan genre musik jazz. Hasilnya memang menarik dan selalu mengundang applauses penonton. Contohnya ketika mereka memainkan komposisi ‘Idioteque’ dari Radiohead, ‘Come As You Are’ dari Nirvana dan ‘Last Train to Yogyakarta’ yang merupakan komposisi dari Indra Aziz. Sungguh suatu kolaborasi yang menghasilkan warna baru dan menarik. Persoalan lebih enak dari versi alsinya adalah relatif, kembali kepada selera masing-masing.

‘Spain’ komposisi karya Chick Corea membuka penampilan kuartet ‘The Manhattan Transfer’ malam itu (06/03) pada  ajang bergengsi Axis Jakarta Internasional Java Jazz Festival 2010 di D2 Main Hall JI Expo Kemayoran, Jakarta.

Malam itu, kuartet yang terdiri dari Janis Siegel, Tim Hauser, Alan Paul dan Cheryl Bentyne memang khusus membawakan beberapa komposisi yang diambil dari album terakhir mereka The Manhattan Transfer: The Chick Corea Songbook. Album yang dirilis tahun lalu dalam rangka 40th years anniversary kuartet ini, berisikan komposisi-komposisi karya komponis, pianis dan keyboardis jazz ternama Chick Corea. Bukanlah hal yang mudah tentunya menyanyikan sebuah komposisi karya seorang Chick Corea. Dengan aransemen baru, kuartet ini berhasil membius penonton dengan penampilannya yang menarik.

Seperti pada komposisi ’Spain’, komposisi yang familiar terdengar dengan tempo cepat ala Al Jarreau, kali ini mereka bawakan dengan tempo sedang, diselingi dengan sesi sketsing dari suara khas masing-masing personel. Selain itu, mereka juga membawakan komposisi ‘Times Lie’, ‘Ragtime in Pixie Land’, ‘One Step Closer’. Tim memang seringkali dominan dalam kuartet mereka, sepertinya itulah satu dari ciri khas lainnya yang mereka punya. Pada beberapa komposisi, personel lainnya pun mempunyai porsi tersendiri. Disamping suara, mereka juga menyuguhkan koreo yang manis, menandakan kekompakan mereka hingga kini, membuat penonton yang sebelumnya sempat mengantri panjang semakin terhibur.

Selain mambawakan komposisi karya Chick Corea, kuartet ini juga sempat membawakan komposisi orisinil mereka sendiri, yaitu ’Java Jive’. Komposisi renyah dengan lirik ringan dan menyegarkan ini dibawakan secara acapela diiringi piano. Sungguh penampilan yang menarik, bukan hanya dari segi suara, tapi juga secara visual. Tak heran, kalau penampilan mereka tak pernah sepi bahkan seringkali terjual habis walau tampil pada seri spesial show.

http://www.wartajazz.com/festival/2010/03/18/suguhan-segar-dan-renyah-dari-the-manhattan-transfer-the-chick-corea-songbook/

Bintang spesial show kali ini datang dari negeri paman sam, Amerika. Ini adalah kali pertama Legend tampil diJakarta. Musiknya yang terdengar ke ranah musik soul, pop, jazz dan R&B, justru membuat penonton antusias untuk datang dan bergoyang. Penggabungan musik ini memang seringkali memikat perhatian penonton selain tentunya sosok si artis itu sendiri, maka dari itu musik ini selalu mendapat porsi di Ajang Java Jazz Festival tiap tahunnya.

 

 

 

 

Penampilan John Legend amat memukau penonton di ajang musik akbar Axis Java Jazz Festival 2010 (05/03). Walau terlambat 1 jam, sepertinya tak membuat penonton hilang semangat, mereka terlihat antusias dan terbawa arus suasana romantis lewat lagu-lagu Legend. Penampilannya menyedot habis tiket spesial show maka tampak para pemilik tiket mengantri panjang sampai puluhan meter dipanggung utama main hall sebelum pintu dibuka.

Sebelum konser dimulai, Peter F Gontha selaku Founder dan Chairman dari festival ini memberikan sambutan, lalu memberikan kesempatan kepada pihak-pihak yang sangat berjasa demi terselenggaranya pagelaran ini, seperti Mari Elka Pangestu (Menteri Perdagangan), MS Hidayat (Ketua Kadin), Tim Swift (produser ‘This is it’ Michael Jakson), Harvey Mansion (musisi), para sponsor dan banyak lagi. Setelah itu, MC memanggil para penerima penghargaan yang tiap tahunnya panitia adakan, yaitu Demas Narawangsa (Indonesian Young Talent Award), Roy Hargrove (Jazz Icon Award), In Memoriam to Kenny Rankin (Diterima oleh Brian Avnet), Alm. Indra Malaon (The Most Dedicated Person to Jazz in Indonesian Award) dan Brian Simpson (The Most Supportive Person Award). Setelah itu, lagu Indonesia Raya berkumandang sebagai tanda uhtuk bangga dan mempromosikan ‘Remarkable Indonesia’. Suasana di main hall D2 semakin hangat ketika penonton ikut menyanyikannya.

Penonton langsung histeris ketika John Legend muncul dan mulai menyanyikan lagu-lagu andalannya seperti ‘Ordinary People’, ‘Green Light’, ‘Save Room for My Love’, ‘Good Morning’, ‘I Can Change’, ‘This Time’, ‘Stay’, ‘We Just don’t Care, ‘Number One’. Yang paling membuat penonton histeris saat Legend menarik salah satu penonton untuk naik keatas panggung, kebetulan ia adalah seorang presenter bernama Melani Ricardo. Penampilan mereka yang mesra membuat banyak penonton berteriak histeris. Penonton terus menikmati penampilannya. “Saya senang gembira diundang mengisi acara ini dan baru pertama kali datang keIndonesia” tutur pria yag juga sibuk penggalangan dana bagi korban HIV di Afrika.     

http://www.wartajazz.com/festival/2010/03/18/aksi-john-legend-di-ajang-special-show-axis-java-jazz-festival-2010/

Gw suka lagu ini, terlepas dari liriknya yg gw gak ngerti apa. Tapi gw suka lagu ini secara keseluruhan. Bravo Viky dan karya2 lainnya.

Vicky Sianipar – Sesal Semu

Apakah ku bersalah
Bila ku anggap itu semua tak pernah nyata
Ingin rasa lupakan semua
Dan anggap itu semua hanya mimpi

Sesal, tangis, cemburu
Tlah ku curahkan semua hanya untukmu
Seribu tanya di kepala
Kau telah membuatku… gila..

Ow.. Oo..Oo..
Terlalu jika ada yang anggap kau manusia
Kau tersenyum, tertawa
Saat ada yang menangis karnamu

Ow.. Oo..Oo..
Ternyata kau tak lebih sempurna dari yang ada
Ku terlena, terhanyut
Tuk sakiti dia yang sangat cintaiku

Rasa sesal berjuta harap
Kan selalu ada dalam benakku
Datanglah di saat ku rindu
Dan pergilah saatku masih mau

Terlalu jika ada yang anggap kau manusia
Kau tersenyum, tertawa
Saat ada yang menangis karnamu

Ow.. Oo..Oo..
Ternyata kau tak lebih sempurna dari yang ada
Ku terlena, terhanyut
‘tuk sakiti dia yang sangat cintaiku

Tersenyum kau tertawa
Ku menangis dan terlena
Ternyata kau bukan manusia
Kau buatku tinggalkan dirinya

Tersenyum kau tertawa
Ku menangis dan terlena
Ternyata kau bukan manusia
Kau buatku tinggalkan dirinya

Tersenyum kau tertawa

Kau bukan manusia

Sabar

It’s just not a word, bukan hanya sebuah kata. Sabar, kata sifat yang gak gampang untuk dipraktekkan. Sabar merupakan suatu kesimpulan yang harus diambil & dipraktekkan setelah mengalami suatu hal yang gak sesuai dengan kemauan. Tetapi biar bagaimanapun, harus.. Karena begitulah idealnya. Setelah itu, beberapa tahap & tingkatan setelah itu, maka kita akan menemukan ‘ikhlas’ didalamnya. Insya Allah berkah.

Mungkin – Potret

Potret, salah satu band yg menurut gw punya ciri khas, baik dari segi musik maupun liriknya. Mempunyai Anto Hoed & Aksan pada dapur musikalitasnya, dan Melly pd segi lirik & melodi penciptaan lagunya.

‘Mungkin’ mengingatkan gw dengan ‘Diam’, lagu yg juga menjadi hits pd album sebelumnya. Dengan musik yg minimalis tetapi lirik yg menohok. Dan tetap tentang penderitaan perempuan. Tidak dipungkiri, lirik ini banyak dialami perempuan dimana-mana.

Salut utk Melly dan Potretnya, this song is really touchable.

Mungkin…
Aku bisa bercinta dengan kamu
Kendati kata-katamu selalu
Menusuk jantung melukaiku

Reff:
Mungkin…
Ku mau memaafkan mu kembali
Demi cinta yang ada dihatiku
Meloloskan mu dari kata pisah

Mungkin sang fajar
Dan sayap-sayap burung patah
Menyaksikan kita berseteru
S’lalu tak pernah damai

Mungkin cintaku
Terlalu kuat dan menutupi
Jiwa yang dendam akan kerasmu
Sehingga kita bersama
Mungkin

Mungkin…
Ku mau memaafkan mu kembali
Demi cinta yang ada dihatiku
Meloloskanmu dari kata pisah
Mungkin

Back to Reff:

Mungkin cintaku
Terlalu kuat dan menutupi
Jiwa yang dendam akan kerasmu
Sehingga kita bersama
Mungkin..

Song Title: Lagu Rindu

Artist/Group Band: Krispatih —————————-

bintang malam katakan padanya

aku ingin melukis sinarmu di hatinya

embun pagi katakan padanya biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya

bintang malam sampaikan padanya aku ingin melukis sinarmu di hatinya

embun pagi katakan padanya biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya

tahukah engkau wahai langit

aku ingin bertemu membelai wajahnya

kan ku pasang hiasan angkasa yang terindah hanya untuk dirinya

lagu rindu ini ku ciptakan hanya untuk bidadari hatiku tercinta

walau hanya nada sederhana

ijinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan

tahukah engkau wahai langit aku ingin bertemu membelai wajahnya

kan ku pasang hiasnya angkasa yang terindah hanya untuk dirinya

lagu rindu ini ku ciptakan

hanya untuk bidadari hatiku tercinta

walau hanya nada sederhana

ijinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan

Jak Jazz datang lagi…

Tak terasa, sepertinya baru kemarin lihat Jakjazz di Senayan. Eh, sekarang udah mau ada lagi.

See you there ya..

Salam Jazz

Sudah dapat dipastikan kalau konser kolaborasi George Benson & Al Jarreau ini (14/09) di Plenary Hall Jakarta Convention Centre merupakan kesempatan langka, begitupun yang diakui Buena Production selaku promotor dari rangkaian tour dalam rangka mempromosikan album ‘Givin it up’ yang dirilis tahun 2006. Keduanya memang sempat beberapa kali datang dan melakukan konser di Indonesia, tapi dalam kesempatan yang berbeda.

 

George Benson kita kenal sebagai penyanyi dan  gitaris handal yang banyak menelurkan karya-karya yang akrab ditelinga pecinta musik pada umumnya. Bahkan beberapa dari hitsnya juga terkenal sebagai soundtrack film.

Sementara Al Jarreau adalah penyanyi jazz yang penuh dengan improvisasi dan teknik vocal yang unik. Menonton konsernya merupakan hal yang ditunggu untuk mendengar improvisasi macam apa yang akan ia buat agar penonton terkagum-kagum. Namun keduanya mempunyai banyak kesamaan, seperti sama-sama mempunyai teknik scat singing yang menonjol dalam bernyanyi, mereka juga mengoleksi banyak perhargaan Grammy Awards dan beberapa dari karya mereka berada pada jalur pop dan menjadi hits.

 

Komposisi instrumental ‘Breezin’ milik George Benson meluncur sebagai pembuka konser kolaborasi mereka berdua, namun tidak hanya instrumental melainkan suara Al Jarreau juga terdengar bernyanyi, ia mengaku menulis liriknya sendiri untuk komposisi ini. Lalu George Benson kembali masuk kebelakang panggung. Dan selanjutnya pertunjukan ini menjadi milik Al Jarreau.

 

Pada kesempatan itu, Al Jarreau yang telah berusia 68 tahun membawakan beberapa hitsnya seperti “Your Song”, “We Are In This Love Together”, “Morning” dan medley “Aqua de Beber” dan “Mas Que Nada”. Diselanya seringkali Al Jarreau mengajak penonton untuk ikut bernyanyi disamping kerap kali berscat singing dengan deretan instrumen dibelakangnya.

 

Lalu kolaborasi kembali dilakukan bersama George Benson. Hasilnya adalah dilantunkannya “Long Come Tutu” dan “Summer Breeze”. Seringkali George Benson hanya menjadi backing vocal, begitupun sebaliknya. Seperti yang sudah dia katakan pada kesempatan wawancara Wartajazz dengannya beberapa waktu lalu. “Ketika Al bernyanyi saya memilih untuk memainkan gitar. Itu salah satu cara saya menghargainya. Dan saya tidak berusaha untuk mendominasi album ini. Kami berusaha menghindari cekcok atau rivalitas, karena inilah esensi dari kolaborasi” ujar musisi yang mengidolakan Charlie Parker, John Coltrane, Wes Montgomery, Charlie Christian, Nat King Cole, Frank Sinatra ini.

 

Usai kolaborasi tersebut, panggung kini dikuasai George Benson. Sedikit ia bercerita tentang rangkaian tournya di Asia ini bersama Al Jarreau. Jakarta adalah tempat terakhir yang ia kunjungi setelah Beijing, Hongkong hingga Manila. Dan tentunya mereka mengaku senang menjejaki Jakarta. Dengan gitar ia membuka sesinya dengan tembang instrumental “Off Broadway” dan “Love X Love”. Kali ini gitarnya ia tanggalkan, seolah memupuk konsentrasi guna membawa emosi penonton, sudah dapat diterka, “Nothing Gonna Change My Love For You” membuat gemuruh suara penonton terdengar,  dilanjutkan dengan “In Your Eyes” dan “The Greatest Love of All”, penonton seolah berada diruang karaoke dan bernyanyi didepan penyanyi aslinya. Lalu “Turn Your Love Around”, “Beyond The Sea/La Mer” dan “Cast Your Fate to The Wind”. Lalu dengan menirukan suara alat musik Bag Pipe dari Scotlandia, ia membawakan lagu “Danny Boys, Old Irish Tune” tanpa iringan band, dilanjutkan dengan “Love Ballad” dan “Give Me The Night”. Kolaborasipun kembali dilakoni, kali ini sebagai encore, “On Broadway” dan “Everytime You Go Away”.

 

Musisi-musisi yang mendukung pada jajaran band diantaranya, Mike Simmons (Drums), Thom Hall (Keyboard), Debby Davis (Backing Vocal), Joe Turano (:Music Director, Saxophone, Guitar, Back Up Vocal), Larry Williams (Keyboard), David Garfield (Keyboard), Stanley Banks (Electric Bass) dan Michael O’Neil (Electic Guitar). -(nanadisini)

 

Tulisan ini bisa juga dilihat di wartajazz.com

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.