Dalam sebuah diskusi yang saya hadiri weekend kemarin tentang Musik dalam Film. Banyak hal-hal menarik dan baru yang bisa dipetik. Ya.. sekedar jadi tahu apa aja sih yang terkait disini.
Seorang Music Director mempunyai peran yg sangat penting bagi suatu film disamping Director, Art Director, Director of Photography, Producer dan Storymaker (nama2 merekalah yg muncul pada awal sebuah film). Bisa dibayangkan betapa kaku dan sunyinya sebuah film tanpa alunan musik. Hingga musik yg ada difilm itu bisa memotivasi seseorang untuk menonton sebuah film. Begitu banyak sountrack dari sebuah film menjadi fenomenal dan menghasilkan ratusan ribu copy penjualan seiring dengan kesuksesan film tersebut. Seperti yg terjadi dengan sebuah film roman yang kabarnya sudah ditonton lebih dari 3jt orang, konon bisa dibilang juga, duo suami istri penciptanya itu menjadi jaminan kalau ingin sountrack filmnya laku.
Sangat berbeda dengan jaman dulu, ketika sebuah musik dalam film itu merupakan bagian dari ekspresi film, bukan barang yg harus dijual utk mengembalikan modal (tdk bisa dipungkiri memang karena kini musik indonesia merupakan industri yang mapan, tdk dengan dulu).
Terjadi pada soundtrack ‘Badai Pasti Berlalu’. Eros Djarot selaku pencipta yg kebetulan merupakan salah satu narasumber mengaku iseng2 aja menggarap album sountrack itu, bahkan tanpa berbekal ilmu musikalitas sama sekali. Tapi ia mengerjakannya dengan perasaan. Sehingga melahirkan album soundtrack yang masih diburu orang itu. Majalah Rolling Stone Indonesia melalui ‘Wendi Putranto’ selaku moderator mengaku kalau album itu dinobatkan menjadi ‘Album Sepanjang Masa’, dan Denny Sakrie yg jg narasumber berani menyebutkan kalau album ini sudah terjual 10jt copy, bahkan lebih. Dan banyak lagi yg melambungkan album soundtrack ini, hingga para narasumber yang ada menjadi terlena sehingga diskusi ini menjadi tidak jauh berkutat pada ‘Badai Pasti Berlalu’.
Sempat juga dibahas sedikit soal beberapa film yg muncul akhir2 ini yg memakai artis2 dari Aksara Records, seperti ‘Jani Joni’, ‘Perempuan Punya Cerita’ dan ‘Quicky Express’. Sebenernya itu yg mau saya dengar lebih dalam, kenapa soundtrack Quicky Express ditendang jauh2 dari Indonesian Movie Award kemarin. Selain juga aspek2 teknis seperti proses pembuatan soundtract/scoring dari awal sampai akhir dibahas secara detil.
Pada akhir diskusi saya sempat bertanya kepada salah satu narasumber yaitu mas Aghi Narotama (pemusik/music score film), “Ada gak sih produser film yg mau memakai soundtrack dengan jaminan kalau album soundtrack itu harus laku sekian copy?”. Saya pikir, kan lumayan bisa sedikitnya mengeliminir kemungkinan tdk ruginya memproduksi sebuah film. Eh dia jawab. “Iya, ada”. Wah wah.. kaget juga dengernya. Sampai sebegitunya..
Narasumber yg hadir diantaranya :
-, Eros Djarot (Komposer/Music Scorer/Filmmaker)
-, Thoersi Agreswara (Music Scorer Film)
-, Denny Sakrie (Pengamat Musik)
-, Aghi Narotama (Pemusik/Music Scorer Film)
-, David Tarigan (Record Label -Aksara Record-)
Moderator : Wendi Putranto (Rolling Stone Indonesia)
