Category: Music Event


Beatbop Project

Satu lagi warna baru yang hadir pada ajang Axis Java Jazz Festival 2010 malam itu (06/03) di Outdoor Stage. Sebuah kolaborasi dari funk, hip hop dan jazz yang digawangi oleh Indra Aziz, Riza Arshad, Indra Perkasa, Jevin Julian dan Billy Tamnge a.k.a BdaBX. Jika dilihat dari sepak terjang yang pernah mereka lakukan, masing-masing personel mempunyai warna yang berbeda-beda.

Indra Aziz adalah seorang vokalis dan saxophonist yang juga aktif sebagai dosen vokal di UPH Karawaci dan sebagai head of vokal department Institut MusikIndonesia.

Indra Perkasa seorang komposer, arranger, dan pemain double-bass. Ia menyelesaikan studinya di IMDI dan melanjutkan studi film-scoring di California, A.S. Saat ini Indra aktif mengajar di IMDI dan juga sibuk dengan berbagai proyek film.

Billy Tamnge a.k.a BdaBX adalah beatboxer kelahiran Papua. Billy adalah salah satu pendiri komunitas Indobeatbox bersama Tito a.k.a Titz G Fade 2 Black dan teman-teman chief lainnya di Indobeatbox. Saat ini selain aktif mempromosikan beatbox ke seluruh nusantara, ia juga aktif bernyanyi dalam paduan suara.

Beatbox merupakan salah satu bentuk seni yang lebih fokus kepada menghasilkan bunyi-bunyian ritmis dan ketukan drum, instrumen musik, maupun tiruan dari bunyi-bunyian lainnya, khususnya suara turntable, melalui alat-alat ucap manusia seperti mulut, lidah, bibir, dan rongga-rongga ucap lainnya.

Jevin Julian adalah drummer jazz yang belajar di IMDI. Selain itu Jevin juga adalah seorang beatboxer handal, salah seorang pelopor diIndonesia, dan juara beatboxing competition.

Terakhir adalah Riza Arshad, seorang komposer dan pianis yang sudah tidak asing lagi bagi dunia jazzIndonesia. Riza Arshad merupakan motor dari grup simakDialog dan Trioscapes. Ia juga seorang pengajar masterclass jazz di IMI, selain juga sebagai kurator program Serambi Jazz.

Beatbop project merupakan project pertama mereka, walaupun mereka beberapa kali pernah bersentuhan dalam beberapa proyek, namun baru dalam Beatbop project inilah mereka dapat berkolaborasi secara langsung.

Kolaborasi yang sungguh terbilang jarang, bahkan mungkin belum pernah ada di Indonesia sebelumnya, dimana beatbop yang terdengar lebih condong ke genre musik elektronik lebih dominan seringkali digabungkan dengan genre musik rock, pop dan R&B, namun kali ini digabungkan juga dengan genre musik jazz. Hasilnya memang menarik dan selalu mengundang applauses penonton. Contohnya ketika mereka memainkan komposisi ‘Idioteque’ dari Radiohead, ‘Come As You Are’ dari Nirvana dan ‘Last Train to Yogyakarta’ yang merupakan komposisi dari Indra Aziz. Sungguh suatu kolaborasi yang menghasilkan warna baru dan menarik. Persoalan lebih enak dari versi alsinya adalah relatif, kembali kepada selera masing-masing.

‘Spain’ komposisi karya Chick Corea membuka penampilan kuartet ‘The Manhattan Transfer’ malam itu (06/03) pada  ajang bergengsi Axis Jakarta Internasional Java Jazz Festival 2010 di D2 Main Hall JI Expo Kemayoran, Jakarta.

Malam itu, kuartet yang terdiri dari Janis Siegel, Tim Hauser, Alan Paul dan Cheryl Bentyne memang khusus membawakan beberapa komposisi yang diambil dari album terakhir mereka The Manhattan Transfer: The Chick Corea Songbook. Album yang dirilis tahun lalu dalam rangka 40th years anniversary kuartet ini, berisikan komposisi-komposisi karya komponis, pianis dan keyboardis jazz ternama Chick Corea. Bukanlah hal yang mudah tentunya menyanyikan sebuah komposisi karya seorang Chick Corea. Dengan aransemen baru, kuartet ini berhasil membius penonton dengan penampilannya yang menarik.

Seperti pada komposisi ’Spain’, komposisi yang familiar terdengar dengan tempo cepat ala Al Jarreau, kali ini mereka bawakan dengan tempo sedang, diselingi dengan sesi sketsing dari suara khas masing-masing personel. Selain itu, mereka juga membawakan komposisi ‘Times Lie’, ‘Ragtime in Pixie Land’, ‘One Step Closer’. Tim memang seringkali dominan dalam kuartet mereka, sepertinya itulah satu dari ciri khas lainnya yang mereka punya. Pada beberapa komposisi, personel lainnya pun mempunyai porsi tersendiri. Disamping suara, mereka juga menyuguhkan koreo yang manis, menandakan kekompakan mereka hingga kini, membuat penonton yang sebelumnya sempat mengantri panjang semakin terhibur.

Selain mambawakan komposisi karya Chick Corea, kuartet ini juga sempat membawakan komposisi orisinil mereka sendiri, yaitu ’Java Jive’. Komposisi renyah dengan lirik ringan dan menyegarkan ini dibawakan secara acapela diiringi piano. Sungguh penampilan yang menarik, bukan hanya dari segi suara, tapi juga secara visual. Tak heran, kalau penampilan mereka tak pernah sepi bahkan seringkali terjual habis walau tampil pada seri spesial show.

http://www.wartajazz.com/festival/2010/03/18/suguhan-segar-dan-renyah-dari-the-manhattan-transfer-the-chick-corea-songbook/

Bintang spesial show kali ini datang dari negeri paman sam, Amerika. Ini adalah kali pertama Legend tampil diJakarta. Musiknya yang terdengar ke ranah musik soul, pop, jazz dan R&B, justru membuat penonton antusias untuk datang dan bergoyang. Penggabungan musik ini memang seringkali memikat perhatian penonton selain tentunya sosok si artis itu sendiri, maka dari itu musik ini selalu mendapat porsi di Ajang Java Jazz Festival tiap tahunnya.

 

 

 

 

Penampilan John Legend amat memukau penonton di ajang musik akbar Axis Java Jazz Festival 2010 (05/03). Walau terlambat 1 jam, sepertinya tak membuat penonton hilang semangat, mereka terlihat antusias dan terbawa arus suasana romantis lewat lagu-lagu Legend. Penampilannya menyedot habis tiket spesial show maka tampak para pemilik tiket mengantri panjang sampai puluhan meter dipanggung utama main hall sebelum pintu dibuka.

Sebelum konser dimulai, Peter F Gontha selaku Founder dan Chairman dari festival ini memberikan sambutan, lalu memberikan kesempatan kepada pihak-pihak yang sangat berjasa demi terselenggaranya pagelaran ini, seperti Mari Elka Pangestu (Menteri Perdagangan), MS Hidayat (Ketua Kadin), Tim Swift (produser ‘This is it’ Michael Jakson), Harvey Mansion (musisi), para sponsor dan banyak lagi. Setelah itu, MC memanggil para penerima penghargaan yang tiap tahunnya panitia adakan, yaitu Demas Narawangsa (Indonesian Young Talent Award), Roy Hargrove (Jazz Icon Award), In Memoriam to Kenny Rankin (Diterima oleh Brian Avnet), Alm. Indra Malaon (The Most Dedicated Person to Jazz in Indonesian Award) dan Brian Simpson (The Most Supportive Person Award). Setelah itu, lagu Indonesia Raya berkumandang sebagai tanda uhtuk bangga dan mempromosikan ‘Remarkable Indonesia’. Suasana di main hall D2 semakin hangat ketika penonton ikut menyanyikannya.

Penonton langsung histeris ketika John Legend muncul dan mulai menyanyikan lagu-lagu andalannya seperti ‘Ordinary People’, ‘Green Light’, ‘Save Room for My Love’, ‘Good Morning’, ‘I Can Change’, ‘This Time’, ‘Stay’, ‘We Just don’t Care, ‘Number One’. Yang paling membuat penonton histeris saat Legend menarik salah satu penonton untuk naik keatas panggung, kebetulan ia adalah seorang presenter bernama Melani Ricardo. Penampilan mereka yang mesra membuat banyak penonton berteriak histeris. Penonton terus menikmati penampilannya. “Saya senang gembira diundang mengisi acara ini dan baru pertama kali datang keIndonesia” tutur pria yag juga sibuk penggalangan dana bagi korban HIV di Afrika.     

http://www.wartajazz.com/festival/2010/03/18/aksi-john-legend-di-ajang-special-show-axis-java-jazz-festival-2010/

Jak Jazz datang lagi…

Tak terasa, sepertinya baru kemarin lihat Jakjazz di Senayan. Eh, sekarang udah mau ada lagi.

See you there ya..

Salam Jazz

Sudah dapat dipastikan kalau konser kolaborasi George Benson & Al Jarreau ini (14/09) di Plenary Hall Jakarta Convention Centre merupakan kesempatan langka, begitupun yang diakui Buena Production selaku promotor dari rangkaian tour dalam rangka mempromosikan album ‘Givin it up’ yang dirilis tahun 2006. Keduanya memang sempat beberapa kali datang dan melakukan konser di Indonesia, tapi dalam kesempatan yang berbeda.

 

George Benson kita kenal sebagai penyanyi dan  gitaris handal yang banyak menelurkan karya-karya yang akrab ditelinga pecinta musik pada umumnya. Bahkan beberapa dari hitsnya juga terkenal sebagai soundtrack film.

Sementara Al Jarreau adalah penyanyi jazz yang penuh dengan improvisasi dan teknik vocal yang unik. Menonton konsernya merupakan hal yang ditunggu untuk mendengar improvisasi macam apa yang akan ia buat agar penonton terkagum-kagum. Namun keduanya mempunyai banyak kesamaan, seperti sama-sama mempunyai teknik scat singing yang menonjol dalam bernyanyi, mereka juga mengoleksi banyak perhargaan Grammy Awards dan beberapa dari karya mereka berada pada jalur pop dan menjadi hits.

 

Komposisi instrumental ‘Breezin’ milik George Benson meluncur sebagai pembuka konser kolaborasi mereka berdua, namun tidak hanya instrumental melainkan suara Al Jarreau juga terdengar bernyanyi, ia mengaku menulis liriknya sendiri untuk komposisi ini. Lalu George Benson kembali masuk kebelakang panggung. Dan selanjutnya pertunjukan ini menjadi milik Al Jarreau.

 

Pada kesempatan itu, Al Jarreau yang telah berusia 68 tahun membawakan beberapa hitsnya seperti “Your Song”, “We Are In This Love Together”, “Morning” dan medley “Aqua de Beber” dan “Mas Que Nada”. Diselanya seringkali Al Jarreau mengajak penonton untuk ikut bernyanyi disamping kerap kali berscat singing dengan deretan instrumen dibelakangnya.

 

Lalu kolaborasi kembali dilakukan bersama George Benson. Hasilnya adalah dilantunkannya “Long Come Tutu” dan “Summer Breeze”. Seringkali George Benson hanya menjadi backing vocal, begitupun sebaliknya. Seperti yang sudah dia katakan pada kesempatan wawancara Wartajazz dengannya beberapa waktu lalu. “Ketika Al bernyanyi saya memilih untuk memainkan gitar. Itu salah satu cara saya menghargainya. Dan saya tidak berusaha untuk mendominasi album ini. Kami berusaha menghindari cekcok atau rivalitas, karena inilah esensi dari kolaborasi” ujar musisi yang mengidolakan Charlie Parker, John Coltrane, Wes Montgomery, Charlie Christian, Nat King Cole, Frank Sinatra ini.

 

Usai kolaborasi tersebut, panggung kini dikuasai George Benson. Sedikit ia bercerita tentang rangkaian tournya di Asia ini bersama Al Jarreau. Jakarta adalah tempat terakhir yang ia kunjungi setelah Beijing, Hongkong hingga Manila. Dan tentunya mereka mengaku senang menjejaki Jakarta. Dengan gitar ia membuka sesinya dengan tembang instrumental “Off Broadway” dan “Love X Love”. Kali ini gitarnya ia tanggalkan, seolah memupuk konsentrasi guna membawa emosi penonton, sudah dapat diterka, “Nothing Gonna Change My Love For You” membuat gemuruh suara penonton terdengar,  dilanjutkan dengan “In Your Eyes” dan “The Greatest Love of All”, penonton seolah berada diruang karaoke dan bernyanyi didepan penyanyi aslinya. Lalu “Turn Your Love Around”, “Beyond The Sea/La Mer” dan “Cast Your Fate to The Wind”. Lalu dengan menirukan suara alat musik Bag Pipe dari Scotlandia, ia membawakan lagu “Danny Boys, Old Irish Tune” tanpa iringan band, dilanjutkan dengan “Love Ballad” dan “Give Me The Night”. Kolaborasipun kembali dilakoni, kali ini sebagai encore, “On Broadway” dan “Everytime You Go Away”.

 

Musisi-musisi yang mendukung pada jajaran band diantaranya, Mike Simmons (Drums), Thom Hall (Keyboard), Debby Davis (Backing Vocal), Joe Turano (:Music Director, Saxophone, Guitar, Back Up Vocal), Larry Williams (Keyboard), David Garfield (Keyboard), Stanley Banks (Electric Bass) dan Michael O’Neil (Electic Guitar). -(nanadisini)

 

Tulisan ini bisa juga dilihat di wartajazz.com

Apa yang ada dibenak seseorang yang mendengar tajuk orang jawa bermain jazz?. Ditambah kata Kua Etnika. Tentu tidak akan terlepas dari kesenian tradisional Jawa khususnya yang digabung dengan instrumen elektrik modern dan tentunya jazz. Tapi bagaimana hasilnya, dan apa makna yang terkandung didalamnya.

Malam itu, Rabu (07/05) dan Kamis (08/05) Kua Etnika menjawabnya di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki dengan menggelar konser musik bertajuk ‘Vertigong’ Orang Jawa main Jazz. Berbeda dengan yang biasa, dimana kelompok ini dipimpin oleh Djaduk Ferianto, melainkan kali ini dipimpin oleh sang pemain Bonang, Purwanto.

Purwanto mengaku lekat dengan berbagai jenis musik sejak kecil, mulai dari alunan tembang dan gamelan, lalu Wayang dan Kethoprak, musik popular macam Koes Plus, Panbers, Rinto Harahap, Elvie Sukaesih, Rhoma Irama. Masuk ke ranah kontemporer bersama Sapto Rahardjo, Otok Bima Sidarta hingga Kua Etnika. Dan sekarang, bersama Kua Etnika juga ia mencoba merambah jazz dengan tidak meninggalkan identitas dirinya sebagai seniman tradisi.

“Terasa memang, bagaimana sikap saya sebagai orang Jawa, sangat mempengaruhi cara saya untuk mengolah komposisi-komposisi dalam Vertigong ini. Jazz dan Jawa, pada akhirnya sebuah sikap yang mempengaruhi perasaan saya” ujar Purwanto (Tabloid Vertigong).

Tanpa kata-kata, diawali dengan komposisi berjudul ‘ME-GRAND (Migren)’, dengan susunan personel Indra Gunawan (keyboard), I Nyoman Cau Arsana (gender, suling), Dhanny Eriawan (bass), Purwanto (Bonang), Budi Pramono (gender), Zulhamdani (gitar), Sukoco (kendang) dan Benny Fuad (drum). Setelah itu, barulah Purwanto menjelaskan tentang adanya kesamaan antara musik jazz dengan karawitan (musik jawa), dimana keduanya mempunyai kebebasan dan improvisasi yang terukur, pencariannya memiliki spirit dan energi yang sama.

“Apa yang ia jelaskan, memang mengingatkan pada sikap orang Jawa dalam laku hidupnya. Dalam laku kultural maupun spiritual. Maka Vertigong boleh jadi akan menjadi sebuah catatan bunyi yang bersumber dari penghayatan manusia Jawa, ketika orang jawa main jazz.” (Tabloid Vertigong). “Tapi tidak perlu sampai mengerutkan alis..” ujarnya seolah memecah suasana penonton yang mencoba mengerti maksud yang disampaikan Purwanto.

Dilanjutkan dengan ‘Gumarenggeng’ dan ‘Terarus’, lalu beramai-ramai para musisi mengerumuni satu alat musik bernama Gambang untuk dimainkan bersama-sama dalam komposisi berjudul ‘Gambang Carawak’. Purwanto menjelaskan kalau komposisi ini diinspirasi dari semangat kerja bakti masyarakat di Jawa. Dalam formasi karawitan Jawa, Gambang merupakan alat musik yang harus ada, tapi tidak penting, biasanya ditemani alat musik kayu lainnya seperti Rebab dan Suling yang keberadaannya lebih menonjol. Jadi keberadaannya tidak begitu diperhitungkan. Nah, pada kesempatan ini, Purwanto ingin menunjukan kalau Gambang juga harus berani bersuara, tanpa ditemani teman-temannya itu.

Komposisi selanjutnya berjudul ‘Tumunggul’ dengan bintang tamu penyanyi tenor Indonesia Christoper Abimanyu, pada kesempatan ini, Purwanto sepertinya sukses membawa kesan berbeda menggabungkan musik gamelan jawa dengan seriosa.

Kua Etnika memang bukan sekedar kelompok musik, diusianya yang sudah 12 tahun dengan pergaulan mereka yang menghasilkan berbagai kolaborasi dengan kelompok seni seperti Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Teater Gandrik, Komunitas Pak Kanjeng hingga proyek Pata Java bersama Pata Master membuat mereka juga bisa disebut sebagai kelompok seni pertunjukan, dimana mereka tidak sekedar melakukan sebuah pertunjukan/konser musik, melainkan juga memadukannya dengan tari dan teater. Seperti yang terjadi pada setiap jeda dari satu komposisi ke komposisi yang lain. Dengan berbagai lelucon, terlebih Sukoco yang selalu dijadikan objek berhasil membuat penonton tertawa. Seperti yang terjadi pada komposisi berjudul ‘Aubabauw’, mereka membawakannya secara accapela yang dipimpin Purwanto dengan diselipi lelucon-lelucon khasnya.

Lalu Djaduk Ferianto menjadi bintang tamu pada komposisi berjudul ‘Sekedap’ yang mengambil spirit Reog Ponorogo. “Karena temanya jazz, jadi gak afdol kalau gak pake saksofon” ujar Djaduk. Djaduk yang membawa saksofon dan mengumumkan kalau malam ini, ia akan berhenti bermain alat tiup ini, karena ini adalah hanya fon-nya, jadi saya hanya akan bermain saks (terdengar seperti seks) –nya saja, penontonpun tertawa. Seolah bermain saksofon, tetapi tidak terdengar seperti saksofon. Lalu saksofon itu diletakkan, ternyata itu adalah trumpet khas ponorogo. Lagi-lagi sukses mengundang tawa penonton.

Hingga Trie Utami muncul pada komposisi berjudul ‘Konstan’, terdengar tidak familiar karena dengan tempo 7/8 didominasi iringan gitar fusion Danny dan solo bonang Purwanto, tetapi dalam jazz dengan scoop yang begitu luas, apapun bisa jadi familiar. Lalu dilanjutkan dengan ‘Clap Tone’ dan terakhir ‘Vertigong’.

http://www.wartajazz.com/news/2008/05/12/dari-orang-jawa-yang-bermain-jazz-%E2%80%98vertigong%E2%80%99/

Chris Botti in Concert

Chris Botti in Concert

R.L Productions Indonesia yang sukses mendatangkan Tuck & Patti ke beberapa kota akhir tahun 2007 lalu kembali menghadirkan sebuah pertunjukan menarik yaitu menampilkan Trumpeter Chris Botti bersama Quartetnya yang akan tampil di Jakarta tanggal Sabtu, 24 Mei 2008 di Nusa Indah Theatre, Balai Kartini, Jl. Jendral Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Konser yang turut di dukung oleh Wartajazz.com mulai pukul 20.00 wib hingga selesai dengan empat lima kelas pertunjukan yaitu Diamond Table (Rp. 2.500.000) dan Diamond Seat (Rp. 1.250.000), Platinum (Rp 1.000.000), Gold (Rp 850.000) dan Silver (600.000).

Khusus untuk kelas diamond table, panitia menyediakan empat round-table yang terdiri dari 8 buah kursi disetiap mejanya, yang berarti tersedia 40 buah kursi.

Empat musisi yang kan mendukung penampilan Chris Botti di Jakarta yaitu Mark Adrian Whitfield (Guitarist), William Earl Kilson (Drummer), William Edward Childs (Piano), dan Robert Leslie Hurst (Bass). Selain itu akan hadir pula penyanyi LaShanda Reese.

Kehadiran Chris Botti di Indonesia merupakan rangkaian dari tour Asianya ke Jepang, Singapura, Korea dan China

Chris Botti adalah trumpeter pemenang Grammy Awards yang tinggal di Oregon AS. Masa kecilnya dihabiskan di Italia. Pengaruh musik datang dari sang ibu yang belajar pianio klasik selain menjadi part-timer.

Chris Botti dikenal luas karena keterlibatannya dengan penyanyi Sting sejak tahun 1999 – selain keterlibatannya di lagu ‘Love Again’ dan ‘When I Fall In Love’ – dan menjadi solois dalam tour “Brand New Day” selama kurang lebih dua tahun.

Ia telah merilis sedikitnya 10 buah album solo. Yang terakhir “Italia” dirilis tahun 2007 lalu yang mellibatkan penyanyi klasik Andrea Bocelli, Paula Cole dan Dean Martin.

Sepanjang karirnya selain bersama Sting ia juga pernah tampil bersama Frank Sinatra, Dean Martin, Chaka Khan, Jill Scott, Steven Tyler, The Blue Nile, Josh Groban, Michael Bublé, Dave Koz, Jeff Lorber, David Torn, Roy Hargrove, Paul Simon, Rod Stewart, Clark Terry, Lee Ritenour, Renee Olstead, Burt Bacharach dan Brian Culbertson.

Botti menyebut trumpeter legendaris Miles Davis sebagai tokoh yang memberikan pengaruh besar bagi dirinya.

Taken from http://wartajazz.com

Seperti yang sudah banyak diberitakan sebelumnya, formasi Big Band sudah menjadi tradisi dalam Festival Musik Tahunan Dji Sam Soe Super Premium Java Jazz Festival 2008 ini. Tak heran kalau formasi dengan belasan personel dibelakang instrumen masing-masing ini sering ditemui pada setiap ruangan-ruangan festival ini.

 

Line Up yang mungkin ditemui pada jajaran pertama Big Band International adalah Ron King Big Band, yang malam itu (07/03) menggandeng penyanyi jazz muda wanita besutan David Foster, Renee Oldstead di Assembly 1. Menurut Festival Program Director Eki Puradireja, ruangan ini memang disiapkan untuk pertunjukan dengan detil musikalitas yang tinggi, untuk itu disiapkan kursi bagi pengunjung yang ingin menikmati pertunjukan dari artis idolanya. Ron King Big Band yang ketika itu mengajak 19 personel diantaranya Ron King (Trumpet & Leader), Lee Thornburg, Jamie Hovorka, Bob O’Donnell, Jeff Kaye (Trumpet), Billy Kerr, Glenn Morrissette, Glen Garrett, George Harper, Phil Feather (Saxes), Jacques Voyemant, Alisha Ard, Jeremy Levy, Chris Gonzales (Trombone), Cho Yoon Seung (Piano), Adam Cohen (Bass) dan Jamey Tate (Drums), bersama Renee Oldstead membawakan beberapa lagu diantaranya ‘Summertime’ dan ‘Skyluck’. Renee yang malam itu  mengaku banyak terinspirasi musisi Billie Holiday, James Taylor & Stevie Wonder tampil cantik dan anggun dengan bunga disela rambut dan telinganya.

 

Sedang dari negeri sendiri pengunjung diberikan banyak pilihan, seperti saat ketika kita baru saja memasuki pintu arena festival, menuju ke lobbi stage 3 hari minggu (09/03). Langsung disuguhi keriuhan Big Band dari Galaxy Big Band yang kebanyakan terdiri dari para Ekspatriat Jepang. Komposisi yang mereka bawakan memang banyak yang terdengar familiar dikuping para penikmat musik, pun diluar jazz. Seperti ‘September’, ‘Only You’ dan ‘All of Me’. Begitu juga dengan Van Alloy Big Band, yang beberapanya terdiri dari  alumni Institut Teknologi Bandung tampil di Talent Stage sabtu (08/03). Beberapa kali juga menjadi langganan dalam ITB Big Band Concert yang diadakan setiap tahunnya. Lagu-lagu yang mereka bawakan diantaranya ‘Just the Two of Us’, ‘Didadaku ada kamu’, ‘Girl from Ipanema’, ‘You are the sunshine of my life (Stevie Wonder)’, ‘Corcovado (Jobim)’ dan ‘Birdland (Weather Report)’. Selain mereka, juga ada Kirana Big Band, Salamander Big Band, Hypersax dan Jazzmint Big Band.

 

Jika dilihat dari komposisi-komposisi yang mereka bawakan, adalah komposisi yang tidak asing bagi para penikmat musik. Mungkin juga dalam rangka mensosialisasikan dan menumbuhkan kecintaan pengunjung terhadap musik jazz dalam format Big Band.

 

*/Dwi Ratna N (Nana)

Jazz memang bisa saja merasuki banyak jenis musik, sebut saja pop jazz, rock jazz, hip hop jazz, soul jazz, bahkan dangdut jazz yang dulu pernah dipopulerkan Trakeba, kolaborasi antara Indra Lesmana dan Camelia Malik beberapa tahun lalu. Hal ini juga yang persis terjadi pada perhelatan festival musik jazz tahunan, Dji Sam Soe Jakarta International Java Jazz Festival.

 

Sama halnya yang terjadi dengan grup musik asal United Kingdom, Incognito. Yang berhasil memadukan jazz dengan soul, funk, fusion dan elektronika. Walau sudah seringkali tampil di Indonesia, masih saja banyak penggemar setianya yang setia antri berlama-lama menunggu penampilan mereka. Corak musik Acid Jazz -seperti juga yang disebut Jean Paul Maunick a.k.a Bluey, sang gitaris- sangat disukai pengunjung festival ini. Penampilannya membuka panggung Plenary Hall pada hari pertama (07/03) (menggantikan Matt Bianco yang batal hadir) juga hari ketiga menutup Plenary Hall tidak pernah sepi penunjung, semua asik menyimak sambil bergoyang mengikuti irama hentakan musik yang identik dengan beat drum yang stabil dan rhythm gitar Bluey yang cepat.

 

Memang tidak bisa begitu saja melupakan keunikan personel-personel yang lain. Karena semua personel yang berada dibelakang masing-masing instrumennya juga menyumbangkan suara yang tidak kalah bagusnya. Keyboard Matt Cooper yang seringkali mengejutkan dan mengeluarkan suara-suara yang tidak biasa juga tentunya rentetan brass section yang senantiasa pas mengisi pada setiap momennya.  Suara Maysa Leak, yang tebal, berat dan bertenaga hadir mengimbangi peraduan instrumen yang ada, tidak kalah juga vocal Tony Monrelle, Imaani dan Jocelyn Brown. Dibelakang instrument lainnya, juga ada Richard Bailey (drums & percussion),  Francis Hylton (bass guitar),  Sidney Gauld (trumpet), Paul Greenwood (sax & flute) dan Trevor Mires (trombone).

 

Hal yang istimewa terjadi kali ini, karena sepanjang penampilannya, Bluey mengajak vokalis wanita asal Bandung ‘Dira’ untuk ikut bernyanyi tentunya disamping ketiga vokalis fenomenal Incognito lainnya.

 

Malam terakhir menutup panggung Plenary Hall itu (09/03), Incognito membukanya dengan lagu ‘Deep Water’, dengan tempo dan beat yang slow, tapi tetap tidak membuat penonton berdiam diri menikmati alunan lagu. Lalu Dira muncul dan beradu vocal dengan Maysa Leak dalam lagu ‘Talking Loud’. Walau terdengar tidak sekuat Maysa, namun applauses penonton tetap terdengar riuh terlebih disaat Dira melantunkan vocalnya. Dilanjutkan dengan beberapa lagu diantaranya, ‘Nights over Egypts’, ‘Dont you worry bout a thing’, ‘Everyday’ dan diakhiri dengan hits yang paling populer ‘Still a friend of mine’.

 

Beberapa kali juga Bluey mengajak penonton untuk ikut bernyanyi bersama-sama disela lagunya. Puncaknya pada lagu terakhir, ketika ia membagi penonton menjadi dua bagian, A dan B. Bagian A melantunkan irama rhythm, sedang yang B menyanyikan refrain ‘still a friend of mine’. Mungkin bagian inilah yang akan membekas dihati para pecinta Incognito.

 

‘Tulisan ini juga bisa dilihat di http://www.wartajazz.com

Siapa yang tidak mengenal kuartet vocal berkelas international ini. Didunia jazz, bisa dibilang namanya merupakan ukuran atau barometer untuk sebuah grup vocal. Oleh karenanya tidak heran kalau penampilan mereka pada panggung Plenary Hall JCC pada hari kedua (08/03) Dji Sam Soe Super Premium Java Jazz Festival 2008 ini bisa dibilang merupakan puncak dari segala performer yang ada. Ribuan penonton memenuhi ruang pertunjukan utama festival ini dan terpukau oleh olah vokal masing-masing personel.

 

Terdiri dari empat orang penyanyi yang sudah tidak diragukan lagi keabsahannya didunia tarik suara, diantaranya Cheryl Bentyne, Tim Hauser, Alan Paul dan Janis Siegel. Kiprah keempat personel ini telah membuat Manhattan Transfer dianugrahi koleksi Grammy Award dari para penggemarnya diseluruh dunia. Ditambah hitsnya yang senantiasa menghiasi puncak tangga lagu berbagai media audio, audio video dan cetak diseluruh dunia.

 

Dibuka dengan lagu ‘Birdland’, yang awalnya adalah sebuah komposisi instrumental ciptaan Joseph Zawinul dalam album grup fusion Weather Report yang dibawakan dengan tambahan lirik lagu dari Jon Hendricks. Dilanjutkan dengan repertoar international hits mereka lainnya seperti ‘Route 66’ yang pertama kali dipopulerkan The Nat King Cole Trio, ‘Candy’ yang begitu mellow juga ‘Java Jive’ dan ‘Soulfood To Go’. Tidak lupa tentunya nomor pop yang begitu akrab ditelinga, ‘Smile Again’, koor penonton terdengar begitu menghayati setiap bait dari lagu ini. Yang menjadi ciri khas, seringkali mereka melakukan vocalese (memberikan lirik) terhadap lagu-lagu instrumental, seperti yang dilakukan dalam lagu ‘Tutu’ (The New Juju Man) yang diambil dari album Miles Davis, pada lagu ini juga Cheryl Bentyne begitu berhasil menggabungkan suaranya dengan suara terompet yang begitu keras. Juga ‘Twilight Zone’ dengan iringan irama swing yang berkejar-kejaran. 

 

Mengajak pasukan personel yang terdiri dari Yaron Gershovsky (piano/musical director), John B Williams (Bass), Joel Roesenblatt (Drums) dan Clive Lendich (Guitar).

 

Yang cukup mengejutkan terjadi ketika tiba-tiba mereka memanggil Kenny ‘Baby Face’ Edmonds kepanggung. Kontan penonton terkejut dan teriak memberikan applause terhadap Kenny yang memakai setelan jas putih. Hanya memberikan sapaan ‘halo’, lalu kembali kebelakang panggung. Hal ini mungkin sebagai gimmick, mengingatkan kalau ia akan tampil keesokan malamnya pada panggung yang sama, mengingat kehadiran Bobby Caldwell pada hari sebelumnya tidak begitu dipenuhi penonton.

 

Meski Manhattan Transfer sudah melampaui tiga dekade dalam kiprahnya didunia tarik suara. Tetap masih memiliki kualitas lantunan vokal yang optimal.

 

‘Tulisan ini juga bisa dilihat di http://www.wartajazz.com

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.