Category: Music Review


Beatbop Project

Satu lagi warna baru yang hadir pada ajang Axis Java Jazz Festival 2010 malam itu (06/03) di Outdoor Stage. Sebuah kolaborasi dari funk, hip hop dan jazz yang digawangi oleh Indra Aziz, Riza Arshad, Indra Perkasa, Jevin Julian dan Billy Tamnge a.k.a BdaBX. Jika dilihat dari sepak terjang yang pernah mereka lakukan, masing-masing personel mempunyai warna yang berbeda-beda.

Indra Aziz adalah seorang vokalis dan saxophonist yang juga aktif sebagai dosen vokal di UPH Karawaci dan sebagai head of vokal department Institut MusikIndonesia.

Indra Perkasa seorang komposer, arranger, dan pemain double-bass. Ia menyelesaikan studinya di IMDI dan melanjutkan studi film-scoring di California, A.S. Saat ini Indra aktif mengajar di IMDI dan juga sibuk dengan berbagai proyek film.

Billy Tamnge a.k.a BdaBX adalah beatboxer kelahiran Papua. Billy adalah salah satu pendiri komunitas Indobeatbox bersama Tito a.k.a Titz G Fade 2 Black dan teman-teman chief lainnya di Indobeatbox. Saat ini selain aktif mempromosikan beatbox ke seluruh nusantara, ia juga aktif bernyanyi dalam paduan suara.

Beatbox merupakan salah satu bentuk seni yang lebih fokus kepada menghasilkan bunyi-bunyian ritmis dan ketukan drum, instrumen musik, maupun tiruan dari bunyi-bunyian lainnya, khususnya suara turntable, melalui alat-alat ucap manusia seperti mulut, lidah, bibir, dan rongga-rongga ucap lainnya.

Jevin Julian adalah drummer jazz yang belajar di IMDI. Selain itu Jevin juga adalah seorang beatboxer handal, salah seorang pelopor diIndonesia, dan juara beatboxing competition.

Terakhir adalah Riza Arshad, seorang komposer dan pianis yang sudah tidak asing lagi bagi dunia jazzIndonesia. Riza Arshad merupakan motor dari grup simakDialog dan Trioscapes. Ia juga seorang pengajar masterclass jazz di IMI, selain juga sebagai kurator program Serambi Jazz.

Beatbop project merupakan project pertama mereka, walaupun mereka beberapa kali pernah bersentuhan dalam beberapa proyek, namun baru dalam Beatbop project inilah mereka dapat berkolaborasi secara langsung.

Kolaborasi yang sungguh terbilang jarang, bahkan mungkin belum pernah ada di Indonesia sebelumnya, dimana beatbop yang terdengar lebih condong ke genre musik elektronik lebih dominan seringkali digabungkan dengan genre musik rock, pop dan R&B, namun kali ini digabungkan juga dengan genre musik jazz. Hasilnya memang menarik dan selalu mengundang applauses penonton. Contohnya ketika mereka memainkan komposisi ‘Idioteque’ dari Radiohead, ‘Come As You Are’ dari Nirvana dan ‘Last Train to Yogyakarta’ yang merupakan komposisi dari Indra Aziz. Sungguh suatu kolaborasi yang menghasilkan warna baru dan menarik. Persoalan lebih enak dari versi alsinya adalah relatif, kembali kepada selera masing-masing.

‘Spain’ komposisi karya Chick Corea membuka penampilan kuartet ‘The Manhattan Transfer’ malam itu (06/03) pada  ajang bergengsi Axis Jakarta Internasional Java Jazz Festival 2010 di D2 Main Hall JI Expo Kemayoran, Jakarta.

Malam itu, kuartet yang terdiri dari Janis Siegel, Tim Hauser, Alan Paul dan Cheryl Bentyne memang khusus membawakan beberapa komposisi yang diambil dari album terakhir mereka The Manhattan Transfer: The Chick Corea Songbook. Album yang dirilis tahun lalu dalam rangka 40th years anniversary kuartet ini, berisikan komposisi-komposisi karya komponis, pianis dan keyboardis jazz ternama Chick Corea. Bukanlah hal yang mudah tentunya menyanyikan sebuah komposisi karya seorang Chick Corea. Dengan aransemen baru, kuartet ini berhasil membius penonton dengan penampilannya yang menarik.

Seperti pada komposisi ’Spain’, komposisi yang familiar terdengar dengan tempo cepat ala Al Jarreau, kali ini mereka bawakan dengan tempo sedang, diselingi dengan sesi sketsing dari suara khas masing-masing personel. Selain itu, mereka juga membawakan komposisi ‘Times Lie’, ‘Ragtime in Pixie Land’, ‘One Step Closer’. Tim memang seringkali dominan dalam kuartet mereka, sepertinya itulah satu dari ciri khas lainnya yang mereka punya. Pada beberapa komposisi, personel lainnya pun mempunyai porsi tersendiri. Disamping suara, mereka juga menyuguhkan koreo yang manis, menandakan kekompakan mereka hingga kini, membuat penonton yang sebelumnya sempat mengantri panjang semakin terhibur.

Selain mambawakan komposisi karya Chick Corea, kuartet ini juga sempat membawakan komposisi orisinil mereka sendiri, yaitu ’Java Jive’. Komposisi renyah dengan lirik ringan dan menyegarkan ini dibawakan secara acapela diiringi piano. Sungguh penampilan yang menarik, bukan hanya dari segi suara, tapi juga secara visual. Tak heran, kalau penampilan mereka tak pernah sepi bahkan seringkali terjual habis walau tampil pada seri spesial show.

http://www.wartajazz.com/festival/2010/03/18/suguhan-segar-dan-renyah-dari-the-manhattan-transfer-the-chick-corea-songbook/

Bintang spesial show kali ini datang dari negeri paman sam, Amerika. Ini adalah kali pertama Legend tampil diJakarta. Musiknya yang terdengar ke ranah musik soul, pop, jazz dan R&B, justru membuat penonton antusias untuk datang dan bergoyang. Penggabungan musik ini memang seringkali memikat perhatian penonton selain tentunya sosok si artis itu sendiri, maka dari itu musik ini selalu mendapat porsi di Ajang Java Jazz Festival tiap tahunnya.

 

 

 

 

Penampilan John Legend amat memukau penonton di ajang musik akbar Axis Java Jazz Festival 2010 (05/03). Walau terlambat 1 jam, sepertinya tak membuat penonton hilang semangat, mereka terlihat antusias dan terbawa arus suasana romantis lewat lagu-lagu Legend. Penampilannya menyedot habis tiket spesial show maka tampak para pemilik tiket mengantri panjang sampai puluhan meter dipanggung utama main hall sebelum pintu dibuka.

Sebelum konser dimulai, Peter F Gontha selaku Founder dan Chairman dari festival ini memberikan sambutan, lalu memberikan kesempatan kepada pihak-pihak yang sangat berjasa demi terselenggaranya pagelaran ini, seperti Mari Elka Pangestu (Menteri Perdagangan), MS Hidayat (Ketua Kadin), Tim Swift (produser ‘This is it’ Michael Jakson), Harvey Mansion (musisi), para sponsor dan banyak lagi. Setelah itu, MC memanggil para penerima penghargaan yang tiap tahunnya panitia adakan, yaitu Demas Narawangsa (Indonesian Young Talent Award), Roy Hargrove (Jazz Icon Award), In Memoriam to Kenny Rankin (Diterima oleh Brian Avnet), Alm. Indra Malaon (The Most Dedicated Person to Jazz in Indonesian Award) dan Brian Simpson (The Most Supportive Person Award). Setelah itu, lagu Indonesia Raya berkumandang sebagai tanda uhtuk bangga dan mempromosikan ‘Remarkable Indonesia’. Suasana di main hall D2 semakin hangat ketika penonton ikut menyanyikannya.

Penonton langsung histeris ketika John Legend muncul dan mulai menyanyikan lagu-lagu andalannya seperti ‘Ordinary People’, ‘Green Light’, ‘Save Room for My Love’, ‘Good Morning’, ‘I Can Change’, ‘This Time’, ‘Stay’, ‘We Just don’t Care, ‘Number One’. Yang paling membuat penonton histeris saat Legend menarik salah satu penonton untuk naik keatas panggung, kebetulan ia adalah seorang presenter bernama Melani Ricardo. Penampilan mereka yang mesra membuat banyak penonton berteriak histeris. Penonton terus menikmati penampilannya. “Saya senang gembira diundang mengisi acara ini dan baru pertama kali datang keIndonesia” tutur pria yag juga sibuk penggalangan dana bagi korban HIV di Afrika.     

http://www.wartajazz.com/festival/2010/03/18/aksi-john-legend-di-ajang-special-show-axis-java-jazz-festival-2010/

Gw suka lagu ini, terlepas dari liriknya yg gw gak ngerti apa. Tapi gw suka lagu ini secara keseluruhan. Bravo Viky dan karya2 lainnya.

Vicky Sianipar – Sesal Semu

Apakah ku bersalah
Bila ku anggap itu semua tak pernah nyata
Ingin rasa lupakan semua
Dan anggap itu semua hanya mimpi

Sesal, tangis, cemburu
Tlah ku curahkan semua hanya untukmu
Seribu tanya di kepala
Kau telah membuatku… gila..

Ow.. Oo..Oo..
Terlalu jika ada yang anggap kau manusia
Kau tersenyum, tertawa
Saat ada yang menangis karnamu

Ow.. Oo..Oo..
Ternyata kau tak lebih sempurna dari yang ada
Ku terlena, terhanyut
Tuk sakiti dia yang sangat cintaiku

Rasa sesal berjuta harap
Kan selalu ada dalam benakku
Datanglah di saat ku rindu
Dan pergilah saatku masih mau

Terlalu jika ada yang anggap kau manusia
Kau tersenyum, tertawa
Saat ada yang menangis karnamu

Ow.. Oo..Oo..
Ternyata kau tak lebih sempurna dari yang ada
Ku terlena, terhanyut
‘tuk sakiti dia yang sangat cintaiku

Tersenyum kau tertawa
Ku menangis dan terlena
Ternyata kau bukan manusia
Kau buatku tinggalkan dirinya

Tersenyum kau tertawa
Ku menangis dan terlena
Ternyata kau bukan manusia
Kau buatku tinggalkan dirinya

Tersenyum kau tertawa

Kau bukan manusia

Song Title: Lagu Rindu

Artist/Group Band: Krispatih —————————-

bintang malam katakan padanya

aku ingin melukis sinarmu di hatinya

embun pagi katakan padanya biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya

bintang malam sampaikan padanya aku ingin melukis sinarmu di hatinya

embun pagi katakan padanya biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya

tahukah engkau wahai langit

aku ingin bertemu membelai wajahnya

kan ku pasang hiasan angkasa yang terindah hanya untuk dirinya

lagu rindu ini ku ciptakan hanya untuk bidadari hatiku tercinta

walau hanya nada sederhana

ijinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan

tahukah engkau wahai langit aku ingin bertemu membelai wajahnya

kan ku pasang hiasnya angkasa yang terindah hanya untuk dirinya

lagu rindu ini ku ciptakan

hanya untuk bidadari hatiku tercinta

walau hanya nada sederhana

ijinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan

Sudah dapat dipastikan kalau konser kolaborasi George Benson & Al Jarreau ini (14/09) di Plenary Hall Jakarta Convention Centre merupakan kesempatan langka, begitupun yang diakui Buena Production selaku promotor dari rangkaian tour dalam rangka mempromosikan album ‘Givin it up’ yang dirilis tahun 2006. Keduanya memang sempat beberapa kali datang dan melakukan konser di Indonesia, tapi dalam kesempatan yang berbeda.

 

George Benson kita kenal sebagai penyanyi dan  gitaris handal yang banyak menelurkan karya-karya yang akrab ditelinga pecinta musik pada umumnya. Bahkan beberapa dari hitsnya juga terkenal sebagai soundtrack film.

Sementara Al Jarreau adalah penyanyi jazz yang penuh dengan improvisasi dan teknik vocal yang unik. Menonton konsernya merupakan hal yang ditunggu untuk mendengar improvisasi macam apa yang akan ia buat agar penonton terkagum-kagum. Namun keduanya mempunyai banyak kesamaan, seperti sama-sama mempunyai teknik scat singing yang menonjol dalam bernyanyi, mereka juga mengoleksi banyak perhargaan Grammy Awards dan beberapa dari karya mereka berada pada jalur pop dan menjadi hits.

 

Komposisi instrumental ‘Breezin’ milik George Benson meluncur sebagai pembuka konser kolaborasi mereka berdua, namun tidak hanya instrumental melainkan suara Al Jarreau juga terdengar bernyanyi, ia mengaku menulis liriknya sendiri untuk komposisi ini. Lalu George Benson kembali masuk kebelakang panggung. Dan selanjutnya pertunjukan ini menjadi milik Al Jarreau.

 

Pada kesempatan itu, Al Jarreau yang telah berusia 68 tahun membawakan beberapa hitsnya seperti “Your Song”, “We Are In This Love Together”, “Morning” dan medley “Aqua de Beber” dan “Mas Que Nada”. Diselanya seringkali Al Jarreau mengajak penonton untuk ikut bernyanyi disamping kerap kali berscat singing dengan deretan instrumen dibelakangnya.

 

Lalu kolaborasi kembali dilakukan bersama George Benson. Hasilnya adalah dilantunkannya “Long Come Tutu” dan “Summer Breeze”. Seringkali George Benson hanya menjadi backing vocal, begitupun sebaliknya. Seperti yang sudah dia katakan pada kesempatan wawancara Wartajazz dengannya beberapa waktu lalu. “Ketika Al bernyanyi saya memilih untuk memainkan gitar. Itu salah satu cara saya menghargainya. Dan saya tidak berusaha untuk mendominasi album ini. Kami berusaha menghindari cekcok atau rivalitas, karena inilah esensi dari kolaborasi” ujar musisi yang mengidolakan Charlie Parker, John Coltrane, Wes Montgomery, Charlie Christian, Nat King Cole, Frank Sinatra ini.

 

Usai kolaborasi tersebut, panggung kini dikuasai George Benson. Sedikit ia bercerita tentang rangkaian tournya di Asia ini bersama Al Jarreau. Jakarta adalah tempat terakhir yang ia kunjungi setelah Beijing, Hongkong hingga Manila. Dan tentunya mereka mengaku senang menjejaki Jakarta. Dengan gitar ia membuka sesinya dengan tembang instrumental “Off Broadway” dan “Love X Love”. Kali ini gitarnya ia tanggalkan, seolah memupuk konsentrasi guna membawa emosi penonton, sudah dapat diterka, “Nothing Gonna Change My Love For You” membuat gemuruh suara penonton terdengar,  dilanjutkan dengan “In Your Eyes” dan “The Greatest Love of All”, penonton seolah berada diruang karaoke dan bernyanyi didepan penyanyi aslinya. Lalu “Turn Your Love Around”, “Beyond The Sea/La Mer” dan “Cast Your Fate to The Wind”. Lalu dengan menirukan suara alat musik Bag Pipe dari Scotlandia, ia membawakan lagu “Danny Boys, Old Irish Tune” tanpa iringan band, dilanjutkan dengan “Love Ballad” dan “Give Me The Night”. Kolaborasipun kembali dilakoni, kali ini sebagai encore, “On Broadway” dan “Everytime You Go Away”.

 

Musisi-musisi yang mendukung pada jajaran band diantaranya, Mike Simmons (Drums), Thom Hall (Keyboard), Debby Davis (Backing Vocal), Joe Turano (:Music Director, Saxophone, Guitar, Back Up Vocal), Larry Williams (Keyboard), David Garfield (Keyboard), Stanley Banks (Electric Bass) dan Michael O’Neil (Electic Guitar). -(nanadisini)

 

Tulisan ini bisa juga dilihat di wartajazz.com

Apa yang ada dibenak seseorang yang mendengar tajuk orang jawa bermain jazz?. Ditambah kata Kua Etnika. Tentu tidak akan terlepas dari kesenian tradisional Jawa khususnya yang digabung dengan instrumen elektrik modern dan tentunya jazz. Tapi bagaimana hasilnya, dan apa makna yang terkandung didalamnya.

Malam itu, Rabu (07/05) dan Kamis (08/05) Kua Etnika menjawabnya di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki dengan menggelar konser musik bertajuk ‘Vertigong’ Orang Jawa main Jazz. Berbeda dengan yang biasa, dimana kelompok ini dipimpin oleh Djaduk Ferianto, melainkan kali ini dipimpin oleh sang pemain Bonang, Purwanto.

Purwanto mengaku lekat dengan berbagai jenis musik sejak kecil, mulai dari alunan tembang dan gamelan, lalu Wayang dan Kethoprak, musik popular macam Koes Plus, Panbers, Rinto Harahap, Elvie Sukaesih, Rhoma Irama. Masuk ke ranah kontemporer bersama Sapto Rahardjo, Otok Bima Sidarta hingga Kua Etnika. Dan sekarang, bersama Kua Etnika juga ia mencoba merambah jazz dengan tidak meninggalkan identitas dirinya sebagai seniman tradisi.

“Terasa memang, bagaimana sikap saya sebagai orang Jawa, sangat mempengaruhi cara saya untuk mengolah komposisi-komposisi dalam Vertigong ini. Jazz dan Jawa, pada akhirnya sebuah sikap yang mempengaruhi perasaan saya” ujar Purwanto (Tabloid Vertigong).

Tanpa kata-kata, diawali dengan komposisi berjudul ‘ME-GRAND (Migren)’, dengan susunan personel Indra Gunawan (keyboard), I Nyoman Cau Arsana (gender, suling), Dhanny Eriawan (bass), Purwanto (Bonang), Budi Pramono (gender), Zulhamdani (gitar), Sukoco (kendang) dan Benny Fuad (drum). Setelah itu, barulah Purwanto menjelaskan tentang adanya kesamaan antara musik jazz dengan karawitan (musik jawa), dimana keduanya mempunyai kebebasan dan improvisasi yang terukur, pencariannya memiliki spirit dan energi yang sama.

“Apa yang ia jelaskan, memang mengingatkan pada sikap orang Jawa dalam laku hidupnya. Dalam laku kultural maupun spiritual. Maka Vertigong boleh jadi akan menjadi sebuah catatan bunyi yang bersumber dari penghayatan manusia Jawa, ketika orang jawa main jazz.” (Tabloid Vertigong). “Tapi tidak perlu sampai mengerutkan alis..” ujarnya seolah memecah suasana penonton yang mencoba mengerti maksud yang disampaikan Purwanto.

Dilanjutkan dengan ‘Gumarenggeng’ dan ‘Terarus’, lalu beramai-ramai para musisi mengerumuni satu alat musik bernama Gambang untuk dimainkan bersama-sama dalam komposisi berjudul ‘Gambang Carawak’. Purwanto menjelaskan kalau komposisi ini diinspirasi dari semangat kerja bakti masyarakat di Jawa. Dalam formasi karawitan Jawa, Gambang merupakan alat musik yang harus ada, tapi tidak penting, biasanya ditemani alat musik kayu lainnya seperti Rebab dan Suling yang keberadaannya lebih menonjol. Jadi keberadaannya tidak begitu diperhitungkan. Nah, pada kesempatan ini, Purwanto ingin menunjukan kalau Gambang juga harus berani bersuara, tanpa ditemani teman-temannya itu.

Komposisi selanjutnya berjudul ‘Tumunggul’ dengan bintang tamu penyanyi tenor Indonesia Christoper Abimanyu, pada kesempatan ini, Purwanto sepertinya sukses membawa kesan berbeda menggabungkan musik gamelan jawa dengan seriosa.

Kua Etnika memang bukan sekedar kelompok musik, diusianya yang sudah 12 tahun dengan pergaulan mereka yang menghasilkan berbagai kolaborasi dengan kelompok seni seperti Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Teater Gandrik, Komunitas Pak Kanjeng hingga proyek Pata Java bersama Pata Master membuat mereka juga bisa disebut sebagai kelompok seni pertunjukan, dimana mereka tidak sekedar melakukan sebuah pertunjukan/konser musik, melainkan juga memadukannya dengan tari dan teater. Seperti yang terjadi pada setiap jeda dari satu komposisi ke komposisi yang lain. Dengan berbagai lelucon, terlebih Sukoco yang selalu dijadikan objek berhasil membuat penonton tertawa. Seperti yang terjadi pada komposisi berjudul ‘Aubabauw’, mereka membawakannya secara accapela yang dipimpin Purwanto dengan diselipi lelucon-lelucon khasnya.

Lalu Djaduk Ferianto menjadi bintang tamu pada komposisi berjudul ‘Sekedap’ yang mengambil spirit Reog Ponorogo. “Karena temanya jazz, jadi gak afdol kalau gak pake saksofon” ujar Djaduk. Djaduk yang membawa saksofon dan mengumumkan kalau malam ini, ia akan berhenti bermain alat tiup ini, karena ini adalah hanya fon-nya, jadi saya hanya akan bermain saks (terdengar seperti seks) –nya saja, penontonpun tertawa. Seolah bermain saksofon, tetapi tidak terdengar seperti saksofon. Lalu saksofon itu diletakkan, ternyata itu adalah trumpet khas ponorogo. Lagi-lagi sukses mengundang tawa penonton.

Hingga Trie Utami muncul pada komposisi berjudul ‘Konstan’, terdengar tidak familiar karena dengan tempo 7/8 didominasi iringan gitar fusion Danny dan solo bonang Purwanto, tetapi dalam jazz dengan scoop yang begitu luas, apapun bisa jadi familiar. Lalu dilanjutkan dengan ‘Clap Tone’ dan terakhir ‘Vertigong’.

http://www.wartajazz.com/news/2008/05/12/dari-orang-jawa-yang-bermain-jazz-%E2%80%98vertigong%E2%80%99/

Trioscapes

Judul Album : Riza Trioscapes

Artis : Riza Arshad (Rhodes, Kursweil Piano and Rhythm Programming), Yance Manusama (Electric Bass), Arie Ayunir<->Aksan Sjuman (Drums).

Produser : Riza Arshad 

 

The another journey of musical exploration dari seorang Riza Arshad, begitu diakuinya ketika ditanya tentang Trioscapes. Trio bentukannya disamping Simak Dialog. Walau hanya satu album yang terlahir dari grup ini, tapi membuat kesan yang cukup membuat kita merindukan kembali kapan mereka akan membuat proyek musical yang sama.

 

Bunyi-bunyian electric piano Rhodes era 70-an sangat kental terdengar sepanjang lagu dialbum ini. Tapi tanpa sampling, loop ataupun efek-efek lainnya. Polos, simple seperti formatnya yang juga simple, lazimnya trio dalam musik jazz terdiri dari Piano/Rhodes, Drum dan Bass. But not at that simple, melodi yang dimainkan seperti abstrak, mungkin akan terasa rumit dan asing dibeberapa telinga.

 

“The Three”, “a New Beginning”, “Dream of a life time”, terasa sekali irama-irama fusion, soul & funknya. Seperti tidak lepas dari pengaruh Miles Davis dieranya. Tidak berbeda jauh halnya jika mendengarkan pengaruh Miles Davis juga pada murid-muridnya seperti Chick Corea dan Herbie Hancock. Sedang kesan ballad terdengar dilagu ” Young and Brave” dan “Forever Will be”.

 

Berbeda dengan simak Dialog, yang diakui Ija sebagai rumahnya. “For me, simak Dialog is my baby, it’s my home. Trioscapes is another journey of my musical exploration.. but I know, I’ll always be comin’ back for home“, begitu katanya.

 

Track List :

  1. The Three
  2. A New Beginning
  3. Young and Brave
  4. Dream of a Lifetime
  5. See Things Going
  6. Playtime
  7. Forever Will Be
  8. Burb Herb
  9. Knowing Me

Kalau beberapa waktu lalu kita sering mendengar ‘Tiga Diva’ dengan hits-hitsnya baik diradio maupun televisi, kali ini muncul lagi grup vokal sejenis beranggotakanlimawanita cantik yang sudah punya nama dalam dunia tarik suara diIndonesia. Mereka diantaranya Rieka Roeslan, Iga Mawarni, Andien, Yuni Shara dan Nina Tamam, menamakan diri mereka ‘Lima Wanita’. Hal yang berbeda dari ‘Tiga Diva’ adalah, karena mereka hadir dengan membawa misi sosial mewakili dunia wanita mereka.

Penampilan mereka diiringi the troubadour pada ajang Dji Sam Soe Super Premium Java Jazz Festival 2008 di panggung Cendrawasih 2 & 3 hari ketiga (09/03) cukup mengundang keingintahuan banyak pengunjung festival tahunan ini. Terbukti dengan penuhnya suasana ruangan tersebut oleh penonton yang hadir. Keriuhan penonton yang asik menikmati kehadiran limawanita ini, terlebih lagu-lagu  yang mereka bawakan adalah merupakan hits dari masing-masing personel. Seperti Andien yang membawakan hitsnya ‘Menjelma’, lalu Nina Tamam yang membawakan lagu ciptaan Rieka Roeslan ‘Cinta Setia’ dilanjutkan Rieka Roeslan yang juga membawakan lagu berjudul ‘Sipantun’ yang akan dikeluarkan pada album solo selanjutnya. Pada lagu ini, Rieka mengajak penonton untuk ikut bergoyang mengikuti lirik refrain “kuberputar kiri kanan.. tangan diawang tepukkan…” dan irama lagu. Tetapi karena situasi ramainya penonton, sehingga tidak memungkinkan untuk bergoyang dan berputar mengikuti ajakan Rieka, lalu penonton hanya menggoyang dan memutar tangannya keatas saja. Tetapi tidak mengurangi keriuhan antusiasme penonton menikmati lagu.

Terakhir, mereka membawakan lagu yang diciptakan Rieka Roeslan sebagai single dari ‘Lima Wanita’ ini, berjudul ‘Wanita’. Pada lagu ini, layar dipinggir panggung yang biasanya menampilkan gambar yang sedang terjadi dipanggung, diganti untuk memutar video klip dari lagu ini. Rieka sengaja menciptakan lagu ini, agar para wanitaIndonesiabangga dengan profesinya. Walaupun sebagai ibu rumah tangga, kadang mereka malu mengakui profesinya. Padahal profesi itu sulit dan tidak semua orang bisa melakukannya.

Kehadiran mereka dibawah bendera ‘Lima Wanita’ juga merupakan kampanye sosial dalam rangka memberikan perhatian lebih kepada para wanita. “Adabanyak penindasan atau ancaman terhadap perempuan, seperti masalah kanker, penjualan wanita dan masih banyak lagi. Kita ingin mengingatkan pemerintah terhadap masalah ini dan kita juga ingin membantu menyelamatkan mereka,” begitu tutur Iga sewaktu konferensi pers festival ini (04/03) di The Sultan Hotel. Kedepan rencananya mereka akan melakukan aksi sosial seperti membuka klinik gratis untuk wanita berkaitan dengan aksi penyelamatan wanita ini. Klinik ini akan dibuka untuk wanita yang menderita kangker dan penyakit lainnya, tetapi tidak mampu membiayai perawatan rumah sakit yang begitu mahal, disamping juga memberikan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan hal-hal serupa yang berkaitan dengan kewanitaan lainnya. Hal serupa juga diamini keempat personel lainnya yang juga mempunyai misi yang sama.

Sungguh suatu misi sosial yang mulia. Dimana selain sebagai sarana hiburan, musik juga tidak hanya dibuat, dinyanyikan, direkam, lalu dijual dan selesai. Melainkan juga bisa dijadikan sebagai sarana kampanye sosial kepada masyarakat, dalam hal ini wanita khususnya.  

http://www.wartajazz.com/festival/2008/03/15/lima-wanita-membawa-misi-sosial-wanita/

Namanya bisa saja disejajarkan dengan penyanyi wanita asal Amerika Janet Jackson, Madonna atau Tina Turner sekalipun. Terbukti dengan kesuksesan penjualan jutaan copy album dan singlenya diseluruh dunia. Puncaknya terjadi pada saat ia memenangkan perhargaan bergengsi Grammy award tahun 1988 untuk kategori Best New Artist. Juga jikalau kita pernah mendengar kata “Hasta La Vista Baby”, Jody Watley lah yang mempopulerkan phrase yang begitu akrab ditelinga itu.  

Penampilannya pada ajang Java Jazz Festival di panggung Exhibition Hall B pada hari pertama (07/03) dan hari ketiga (09/03) terbukti banyak menarik penonton. Ia bisa dibilang tergolong penyanyi yang atraktif dan enerjik meski usianya sudah mencapai 49 tahun, karena selain melantunkan lagu-lagu hitsnya, ia juga berhasil menguasai panggung dengan berbagai macam gaya dance-nya dan tentunya mengajak penonton yang hadir untuk ikut bergoyang. Yup, karena dulunya ia memulai karirnya dengan menari diusia 14 tahun. Karir menyanyinya menanjak ketika ia tergabung dalam grup musik R&B Shalamar ditahun 1970-an, ketika itu ia memberikan banyak kontribusi mempopulerkan grup ini melalui hits ‘A Night to Remember’, ‘This is for the Lover in You’ dan ‘The Second Time Around’.

Malam itu, ia juga mengajak Eric Darius, seorang saxophonist asal Amerika yang tergabung dalam Blake Jazz Ensemble dan pernah tampil pada ajang festival-festival jazz bergengsi didunia seperti Umbria Jazz Festival, Jazz Trax Catalina Island dll.

Bersama Eric, Jody Weatley melantunkan lagu ‘Loking for a New Love’. Dilanjutkan dengan the another top ten international hitsnya –begitulah ia menyebutnya- seperti ‘Everything’ & ‘Real Love’ yang diambil dari album ‘Larger Than Life’ (1989), ‘I Want Your Love‘ dari album ‘The Makeover’ (2006) dan ‘Saturday Night Experience’ dari album ‘The Saturday Night Experience’ (1999). Tidak lupa, ia juga seringkali meneriakan “Hasta La Vista Baby” disela-selanya.

Kehadiran Jody Watley pada ajang Dji Sam Soe Super Premium Java Jazz Festival 2008 ini merupakan ajakan dari musisi smooth jazz Jeff Lorber yang merupakan Artist in Residence pada Festival ini.

Jika kita merujuk pada idiom “Jazz bisa merasuki berbagai jenis musik”. Pada Jody Watley kita menemukan jazz merasuki hip hop ,R&B dance music.

http://www.wartajazz.com/news/beyond-jazz/2008/03/14/%E2%80%9Chasta-la-vista-baby%E2%80%9C-jody-watley/

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.