Latest Entries »

Satu lagi pertunjukan musik kampus yang ikut meramaikan agenda pertunjukan musik tahunan dinegeri ini. Dengan mengangkat ragamnya tema sebagai diferensiasi, namun layaknya sebuah pertunjukan musik, yang menampilkan banyak artis ataupun grup band dan deretan stand-stand sponsor, media partner ataupun Food Court. Seperti yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti pada Minggu (11/05) lalu di Tennis Indoor Senayan bertajuk “Trisakti Medical Music on Reformation”.

Festival ini diselenggarakan dalam rangka mengenang satu dekade Tragedi Semanggi yang terjadi pada 12 Mei 1998 dan memakan korban mahasiswa-mahasiswa Trisakti yang sekarang dikenang dengan nama Pahlawan Reformasi. Selain menggalang semangat reformasi, juga dalam rangka mengkampanyekan gerakan anti narkoba dikalangan anak muda. Dan salah satu panitia juga menyebutkan kalau kedepannya festival ini bisa diadakan tahunan dengan tetap mengangkat musik jazz sebagai benang merah dari para performer sebagai bentuk apresiasi mahasiswa terhadap musik.

Rangkaian acara akan diawali dengan kampanye anti narkoba di Bundaran HI yang didukung oleh Balawan, lalu dilanjutkan dengan pertunjukan musik jazz yang menampilkan Maliq n d’Essential, Tompi, Balawan, RAN, Sol Project, Kul-kul, Diafragma dan Jazzyphonic. Turut memeriahkan, penampilan dari UKM Tari Tradisional dan Paduan Suara Trimedika.

Kul-kul yang digawangi oleh Demas Narawangsa (Drum), Sigit Ardityo Kurniawan (Biola), RM Aditya Ardiyanto (Keyboard), Adman Maliawan (Bass) dan Faisar Fasya (Gitar) juga sederetan instrumen tradisional dan gamelan Bali. Musiknya yang merupakan gabungan antara musik modern dengan nuansa tradisional Bali, sore itu membawakan ‘Uluwatu’, ‘Welcome to Bali’dan ‘Canda’ yang khusus dibuat oleh Didit (Biola) dengan Faisar (Gitar) untuk para pahlawan reformasi, terdengar begitu sendu dengan intro duet gitar dan biola. Disusul dengan ‘Balidance’ dan ‘Janger’.

Sedang SOL Project yang menampilkan kolaborasi musik Amerika Latin dengan musik Tradisional Indonesia membawakan hits mereka yang merupakan lagu popular yang mereka aransemen ulang seperti ‘Tua-tua Keladi’-nya Anggun C Sasmi, ‘Sedang Ingin Bercinta’-nya Dewa, ‘Rocker Juga Manusia’-nya Serious, ‘Ku Tak Bisa’nya Slank, lalu ‘Bajing Luncat’ dan ‘Poco-poco’ dari deretan lagu tradisional yang juga mereka gubah aransemennya dengan balutan irama Salsa, Abakua, Guajira dan Cha-cha, sangat kental terdengar pada setiap komposisi gubahan yang mereka bawakan, dengan deretan additional player pada perkusi diantaranya Iwan Wiradz dan Philippe Chiminato yang memainkan Gendang, Bongo dan Conga. Selain tentunya ada Rudy Octave (Keyboard), Cecilia Ventura (Vocal) dan Faiser Florez (Conga) sebagai personel inti.

Penampilan selanjutnya merupakan salah satu penampilan yang ditunggu. Terbukti dengan semakin banyaknya penonton yang hadir dan memadati panggung. RAN, trio yang terdiri dari Rayi (Vocal/Rapper), Asta (Gitar) dan Nino (Vocal) memang layak disebut sedang naik daun. Nama mereka sering dijumpai pada acara-acara musik akhir-akhir ini. Hits pertama mereka ‘Pandangan Pertama’ yang menggabungkan hip-hop, funk, R&B dan jazz digabungkan dengan lirik yang bertemakan cinta sangat disukai kaum muda khususnya. Selain juga karena penampilan mereka yang sangat energik mengikuti irama musik dengan beat yang groovy seperti yang banyak digemari anak muda sekarang. Sukses menggoyang penonton yang hadir dengan lagu-lagu seperti ‘Nothing Last Forever’, ‘Auramu’, ‘Untukmu’ dan ‘Pandangan Pertama’.

Lalu ada Balawan yang malam itu bermain gitar sekaligus bernyanyi. Membawakan beberapa komposisi diantaranya ‘What a Wonderful World’ dan ‘Love’ sesekali bersahut-sahutan suara tapping gitarnya dengan suara Biola dan Kendang. Tepuk tangan penonton tiada henti-hentinya terdengar pada setiap sela permainan.

Kini giliran Tompi bersama Groovology membawakan hits mereka seperti ‘I am Falling in Love’, ‘Lulu dan Siti’, ‘Selalu Denganmu’. Yang cukup menarik dan berbeda dari yang lain adalah ketika Tompi menyanyikan lagu The Massive ‘Cinta Ini Membunuhku’ yang mereka aransemen ulang dengan nuansa reggae. Terakhir ditutup dengan lagu ‘Sedari Dulu’.

Sebelum sampai kepada penampilan puncak, terlebih dahulu panitia mengajak penonton yang hadir untuk sejenak mengheningkan cipta mengenang jasa para pahlawan reformasi dengan layar yang menjadi latar belakang panggung menampilkan cuplikan dari apa yang terjadi pada Tragedi Semanggi dulu, setelah itu mereka yang diwakili ketua panitia membacakan puisi yang mereka dedikasikan untuk pahlawan reformasi yang karena jasa-jasa merekalah banyak memberikan banyak perubahan dalam peta politik dinegeri kita tercinta ini.  

Penampilan terakhir diisi oleh Maliq n d’Essential, Angga sang vocalis yang merupakan alumnus Trisakti sedikit bercerita tentang Tragedi Semanggi, dimana ketika itu ia baru saja masuk menjadi mahasiswa. Oleh karenanya ia merasa bangga turut meramaikan satu dekade peringatan mengenang Tragedi Semanggi. Dengan beberapa gubahan aransemen dan improvisasi, mereka membawakan hits mereka seperti ‘Terdiam’, ‘Kangen’, ‘Heaven’, ‘Free Your Mind’ dan ‘Dia’.

http://www.wartajazz.com/news/2008/05/14/tremor-pertunjukan-musik-mengenang-pahlawan-reformasi/

Apa yang ada dibenak seseorang yang mendengar tajuk orang jawa bermain jazz?. Ditambah kata Kua Etnika. Tentu tidak akan terlepas dari kesenian tradisional Jawa khususnya yang digabung dengan instrumen elektrik modern dan tentunya jazz. Tapi bagaimana hasilnya, dan apa makna yang terkandung didalamnya.

Malam itu, Rabu (07/05) dan Kamis (08/05) Kua Etnika menjawabnya di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki dengan menggelar konser musik bertajuk ‘Vertigong’ Orang Jawa main Jazz. Berbeda dengan yang biasa, dimana kelompok ini dipimpin oleh Djaduk Ferianto, melainkan kali ini dipimpin oleh sang pemain Bonang, Purwanto.

Purwanto mengaku lekat dengan berbagai jenis musik sejak kecil, mulai dari alunan tembang dan gamelan, lalu Wayang dan Kethoprak, musik popular macam Koes Plus, Panbers, Rinto Harahap, Elvie Sukaesih, Rhoma Irama. Masuk ke ranah kontemporer bersama Sapto Rahardjo, Otok Bima Sidarta hingga Kua Etnika. Dan sekarang, bersama Kua Etnika juga ia mencoba merambah jazz dengan tidak meninggalkan identitas dirinya sebagai seniman tradisi.

“Terasa memang, bagaimana sikap saya sebagai orang Jawa, sangat mempengaruhi cara saya untuk mengolah komposisi-komposisi dalam Vertigong ini. Jazz dan Jawa, pada akhirnya sebuah sikap yang mempengaruhi perasaan saya” ujar Purwanto (Tabloid Vertigong).

Tanpa kata-kata, diawali dengan komposisi berjudul ‘ME-GRAND (Migren)’, dengan susunan personel Indra Gunawan (keyboard), I Nyoman Cau Arsana (gender, suling), Dhanny Eriawan (bass), Purwanto (Bonang), Budi Pramono (gender), Zulhamdani (gitar), Sukoco (kendang) dan Benny Fuad (drum). Setelah itu, barulah Purwanto menjelaskan tentang adanya kesamaan antara musik jazz dengan karawitan (musik jawa), dimana keduanya mempunyai kebebasan dan improvisasi yang terukur, pencariannya memiliki spirit dan energi yang sama.

“Apa yang ia jelaskan, memang mengingatkan pada sikap orang Jawa dalam laku hidupnya. Dalam laku kultural maupun spiritual. Maka Vertigong boleh jadi akan menjadi sebuah catatan bunyi yang bersumber dari penghayatan manusia Jawa, ketika orang jawa main jazz.” (Tabloid Vertigong). “Tapi tidak perlu sampai mengerutkan alis..” ujarnya seolah memecah suasana penonton yang mencoba mengerti maksud yang disampaikan Purwanto.

Dilanjutkan dengan ‘Gumarenggeng’ dan ‘Terarus’, lalu beramai-ramai para musisi mengerumuni satu alat musik bernama Gambang untuk dimainkan bersama-sama dalam komposisi berjudul ‘Gambang Carawak’. Purwanto menjelaskan kalau komposisi ini diinspirasi dari semangat kerja bakti masyarakat di Jawa. Dalam formasi karawitan Jawa, Gambang merupakan alat musik yang harus ada, tapi tidak penting, biasanya ditemani alat musik kayu lainnya seperti Rebab dan Suling yang keberadaannya lebih menonjol. Jadi keberadaannya tidak begitu diperhitungkan. Nah, pada kesempatan ini, Purwanto ingin menunjukan kalau Gambang juga harus berani bersuara, tanpa ditemani teman-temannya itu.

Komposisi selanjutnya berjudul ‘Tumunggul’ dengan bintang tamu penyanyi tenor Indonesia Christoper Abimanyu, pada kesempatan ini, Purwanto sepertinya sukses membawa kesan berbeda menggabungkan musik gamelan jawa dengan seriosa.

Kua Etnika memang bukan sekedar kelompok musik, diusianya yang sudah 12 tahun dengan pergaulan mereka yang menghasilkan berbagai kolaborasi dengan kelompok seni seperti Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Teater Gandrik, Komunitas Pak Kanjeng hingga proyek Pata Java bersama Pata Master membuat mereka juga bisa disebut sebagai kelompok seni pertunjukan, dimana mereka tidak sekedar melakukan sebuah pertunjukan/konser musik, melainkan juga memadukannya dengan tari dan teater. Seperti yang terjadi pada setiap jeda dari satu komposisi ke komposisi yang lain. Dengan berbagai lelucon, terlebih Sukoco yang selalu dijadikan objek berhasil membuat penonton tertawa. Seperti yang terjadi pada komposisi berjudul ‘Aubabauw’, mereka membawakannya secara accapela yang dipimpin Purwanto dengan diselipi lelucon-lelucon khasnya.

Lalu Djaduk Ferianto menjadi bintang tamu pada komposisi berjudul ‘Sekedap’ yang mengambil spirit Reog Ponorogo. “Karena temanya jazz, jadi gak afdol kalau gak pake saksofon” ujar Djaduk. Djaduk yang membawa saksofon dan mengumumkan kalau malam ini, ia akan berhenti bermain alat tiup ini, karena ini adalah hanya fon-nya, jadi saya hanya akan bermain saks (terdengar seperti seks) –nya saja, penontonpun tertawa. Seolah bermain saksofon, tetapi tidak terdengar seperti saksofon. Lalu saksofon itu diletakkan, ternyata itu adalah trumpet khas ponorogo. Lagi-lagi sukses mengundang tawa penonton.

Hingga Trie Utami muncul pada komposisi berjudul ‘Konstan’, terdengar tidak familiar karena dengan tempo 7/8 didominasi iringan gitar fusion Danny dan solo bonang Purwanto, tetapi dalam jazz dengan scoop yang begitu luas, apapun bisa jadi familiar. Lalu dilanjutkan dengan ‘Clap Tone’ dan terakhir ‘Vertigong’.

http://www.wartajazz.com/news/2008/05/12/dari-orang-jawa-yang-bermain-jazz-%E2%80%98vertigong%E2%80%99/

Trioscapes

Judul Album : Riza Trioscapes

Artis : Riza Arshad (Rhodes, Kursweil Piano and Rhythm Programming), Yance Manusama (Electric Bass), Arie Ayunir<->Aksan Sjuman (Drums).

Produser : Riza Arshad 

 

The another journey of musical exploration dari seorang Riza Arshad, begitu diakuinya ketika ditanya tentang Trioscapes. Trio bentukannya disamping Simak Dialog. Walau hanya satu album yang terlahir dari grup ini, tapi membuat kesan yang cukup membuat kita merindukan kembali kapan mereka akan membuat proyek musical yang sama.

 

Bunyi-bunyian electric piano Rhodes era 70-an sangat kental terdengar sepanjang lagu dialbum ini. Tapi tanpa sampling, loop ataupun efek-efek lainnya. Polos, simple seperti formatnya yang juga simple, lazimnya trio dalam musik jazz terdiri dari Piano/Rhodes, Drum dan Bass. But not at that simple, melodi yang dimainkan seperti abstrak, mungkin akan terasa rumit dan asing dibeberapa telinga.

 

“The Three”, “a New Beginning”, “Dream of a life time”, terasa sekali irama-irama fusion, soul & funknya. Seperti tidak lepas dari pengaruh Miles Davis dieranya. Tidak berbeda jauh halnya jika mendengarkan pengaruh Miles Davis juga pada murid-muridnya seperti Chick Corea dan Herbie Hancock. Sedang kesan ballad terdengar dilagu ” Young and Brave” dan “Forever Will be”.

 

Berbeda dengan simak Dialog, yang diakui Ija sebagai rumahnya. “For me, simak Dialog is my baby, it’s my home. Trioscapes is another journey of my musical exploration.. but I know, I’ll always be comin’ back for home“, begitu katanya.

 

Track List :

  1. The Three
  2. A New Beginning
  3. Young and Brave
  4. Dream of a Lifetime
  5. See Things Going
  6. Playtime
  7. Forever Will Be
  8. Burb Herb
  9. Knowing Me

Chris Botti in Concert

Chris Botti in Concert

R.L Productions Indonesia yang sukses mendatangkan Tuck & Patti ke beberapa kota akhir tahun 2007 lalu kembali menghadirkan sebuah pertunjukan menarik yaitu menampilkan Trumpeter Chris Botti bersama Quartetnya yang akan tampil di Jakarta tanggal Sabtu, 24 Mei 2008 di Nusa Indah Theatre, Balai Kartini, Jl. Jendral Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Konser yang turut di dukung oleh Wartajazz.com mulai pukul 20.00 wib hingga selesai dengan empat lima kelas pertunjukan yaitu Diamond Table (Rp. 2.500.000) dan Diamond Seat (Rp. 1.250.000), Platinum (Rp 1.000.000), Gold (Rp 850.000) dan Silver (600.000).

Khusus untuk kelas diamond table, panitia menyediakan empat round-table yang terdiri dari 8 buah kursi disetiap mejanya, yang berarti tersedia 40 buah kursi.

Empat musisi yang kan mendukung penampilan Chris Botti di Jakarta yaitu Mark Adrian Whitfield (Guitarist), William Earl Kilson (Drummer), William Edward Childs (Piano), dan Robert Leslie Hurst (Bass). Selain itu akan hadir pula penyanyi LaShanda Reese.

Kehadiran Chris Botti di Indonesia merupakan rangkaian dari tour Asianya ke Jepang, Singapura, Korea dan China

Chris Botti adalah trumpeter pemenang Grammy Awards yang tinggal di Oregon AS. Masa kecilnya dihabiskan di Italia. Pengaruh musik datang dari sang ibu yang belajar pianio klasik selain menjadi part-timer.

Chris Botti dikenal luas karena keterlibatannya dengan penyanyi Sting sejak tahun 1999 – selain keterlibatannya di lagu ‘Love Again’ dan ‘When I Fall In Love’ – dan menjadi solois dalam tour “Brand New Day” selama kurang lebih dua tahun.

Ia telah merilis sedikitnya 10 buah album solo. Yang terakhir “Italia” dirilis tahun 2007 lalu yang mellibatkan penyanyi klasik Andrea Bocelli, Paula Cole dan Dean Martin.

Sepanjang karirnya selain bersama Sting ia juga pernah tampil bersama Frank Sinatra, Dean Martin, Chaka Khan, Jill Scott, Steven Tyler, The Blue Nile, Josh Groban, Michael Bublé, Dave Koz, Jeff Lorber, David Torn, Roy Hargrove, Paul Simon, Rod Stewart, Clark Terry, Lee Ritenour, Renee Olstead, Burt Bacharach dan Brian Culbertson.

Botti menyebut trumpeter legendaris Miles Davis sebagai tokoh yang memberikan pengaruh besar bagi dirinya.

Taken from http://wartajazz.com

Peran Musik dalam Sebuah Film

Dalam sebuah diskusi yang saya hadiri weekend kemarin tentang Musik dalam Film. Banyak hal-hal menarik dan baru yang bisa dipetik. Ya.. sekedar jadi tahu apa aja sih yang terkait disini.

Seorang Music Director mempunyai peran yg sangat penting bagi suatu film disamping Director, Art Director, Director of Photography, Producer dan Storymaker (nama2 merekalah yg muncul pada awal sebuah film). Bisa dibayangkan betapa kaku dan sunyinya sebuah film tanpa alunan musik. Hingga musik yg ada difilm itu bisa memotivasi seseorang untuk menonton sebuah film. Begitu banyak sountrack dari sebuah film menjadi fenomenal dan menghasilkan ratusan ribu copy penjualan seiring dengan kesuksesan film tersebut. Seperti yg terjadi dengan sebuah film roman yang kabarnya sudah ditonton lebih dari 3jt orang, konon bisa dibilang juga, duo suami istri penciptanya itu menjadi jaminan kalau ingin sountrack filmnya laku.

Sangat berbeda dengan jaman dulu, ketika sebuah musik dalam film itu merupakan bagian dari ekspresi film, bukan barang yg harus dijual utk mengembalikan modal (tdk bisa dipungkiri memang karena kini musik indonesia merupakan industri yang mapan, tdk dengan dulu).
Terjadi pada soundtrack ‘Badai Pasti Berlalu’. Eros Djarot selaku pencipta yg kebetulan merupakan salah satu narasumber mengaku iseng2 aja menggarap album sountrack itu, bahkan tanpa berbekal ilmu musikalitas sama sekali. Tapi ia mengerjakannya dengan perasaan. Sehingga melahirkan album soundtrack yang masih diburu orang itu. Majalah Rolling Stone Indonesia melalui ‘Wendi Putranto’ selaku moderator mengaku kalau album itu dinobatkan menjadi ‘Album Sepanjang Masa’, dan Denny Sakrie yg jg narasumber berani menyebutkan kalau album ini sudah terjual 10jt copy, bahkan lebih. Dan banyak lagi yg melambungkan album soundtrack ini, hingga para narasumber yang ada menjadi terlena sehingga diskusi ini menjadi tidak jauh berkutat pada ‘Badai Pasti Berlalu’.

Sempat juga dibahas sedikit soal beberapa film yg muncul akhir2 ini yg memakai artis2 dari Aksara Records, seperti ‘Jani Joni’, ‘Perempuan Punya Cerita’ dan ‘Quicky Express’. Sebenernya itu yg mau saya dengar lebih dalam, kenapa soundtrack Quicky Express ditendang jauh2 dari Indonesian Movie Award kemarin. Selain juga aspek2 teknis seperti proses pembuatan soundtract/scoring dari awal sampai akhir dibahas secara detil.

Pada akhir diskusi saya sempat bertanya kepada salah satu narasumber yaitu mas Aghi Narotama (pemusik/music score film), “Ada gak sih produser film yg mau memakai soundtrack dengan jaminan kalau album soundtrack itu harus laku sekian copy?”. Saya pikir, kan lumayan bisa sedikitnya mengeliminir kemungkinan tdk ruginya memproduksi sebuah film. Eh dia jawab. “Iya, ada”. Wah wah.. kaget juga dengernya. Sampai sebegitunya..

Narasumber yg hadir diantaranya :
-, Eros Djarot (Komposer/Music Scorer/Filmmaker)
-, Thoersi Agreswara (Music Scorer Film)
-, Denny Sakrie (Pengamat Musik)
-, Aghi Narotama (Pemusik/Music Scorer Film)
-, David Tarigan (Record Label -Aksara Record-)
Moderator : Wendi Putranto (Rolling Stone Indonesia)

Seperti yang sudah banyak diberitakan sebelumnya, formasi Big Band sudah menjadi tradisi dalam Festival Musik Tahunan Dji Sam Soe Super Premium Java Jazz Festival 2008 ini. Tak heran kalau formasi dengan belasan personel dibelakang instrumen masing-masing ini sering ditemui pada setiap ruangan-ruangan festival ini.

 

Line Up yang mungkin ditemui pada jajaran pertama Big Band International adalah Ron King Big Band, yang malam itu (07/03) menggandeng penyanyi jazz muda wanita besutan David Foster, Renee Oldstead di Assembly 1. Menurut Festival Program Director Eki Puradireja, ruangan ini memang disiapkan untuk pertunjukan dengan detil musikalitas yang tinggi, untuk itu disiapkan kursi bagi pengunjung yang ingin menikmati pertunjukan dari artis idolanya. Ron King Big Band yang ketika itu mengajak 19 personel diantaranya Ron King (Trumpet & Leader), Lee Thornburg, Jamie Hovorka, Bob O’Donnell, Jeff Kaye (Trumpet), Billy Kerr, Glenn Morrissette, Glen Garrett, George Harper, Phil Feather (Saxes), Jacques Voyemant, Alisha Ard, Jeremy Levy, Chris Gonzales (Trombone), Cho Yoon Seung (Piano), Adam Cohen (Bass) dan Jamey Tate (Drums), bersama Renee Oldstead membawakan beberapa lagu diantaranya ‘Summertime’ dan ‘Skyluck’. Renee yang malam itu  mengaku banyak terinspirasi musisi Billie Holiday, James Taylor & Stevie Wonder tampil cantik dan anggun dengan bunga disela rambut dan telinganya.

 

Sedang dari negeri sendiri pengunjung diberikan banyak pilihan, seperti saat ketika kita baru saja memasuki pintu arena festival, menuju ke lobbi stage 3 hari minggu (09/03). Langsung disuguhi keriuhan Big Band dari Galaxy Big Band yang kebanyakan terdiri dari para Ekspatriat Jepang. Komposisi yang mereka bawakan memang banyak yang terdengar familiar dikuping para penikmat musik, pun diluar jazz. Seperti ‘September’, ‘Only You’ dan ‘All of Me’. Begitu juga dengan Van Alloy Big Band, yang beberapanya terdiri dari  alumni Institut Teknologi Bandung tampil di Talent Stage sabtu (08/03). Beberapa kali juga menjadi langganan dalam ITB Big Band Concert yang diadakan setiap tahunnya. Lagu-lagu yang mereka bawakan diantaranya ‘Just the Two of Us’, ‘Didadaku ada kamu’, ‘Girl from Ipanema’, ‘You are the sunshine of my life (Stevie Wonder)’, ‘Corcovado (Jobim)’ dan ‘Birdland (Weather Report)’. Selain mereka, juga ada Kirana Big Band, Salamander Big Band, Hypersax dan Jazzmint Big Band.

 

Jika dilihat dari komposisi-komposisi yang mereka bawakan, adalah komposisi yang tidak asing bagi para penikmat musik. Mungkin juga dalam rangka mensosialisasikan dan menumbuhkan kecintaan pengunjung terhadap musik jazz dalam format Big Band.

 

*/Dwi Ratna N (Nana)

Jazz memang bisa saja merasuki banyak jenis musik, sebut saja pop jazz, rock jazz, hip hop jazz, soul jazz, bahkan dangdut jazz yang dulu pernah dipopulerkan Trakeba, kolaborasi antara Indra Lesmana dan Camelia Malik beberapa tahun lalu. Hal ini juga yang persis terjadi pada perhelatan festival musik jazz tahunan, Dji Sam Soe Jakarta International Java Jazz Festival.

 

Sama halnya yang terjadi dengan grup musik asal United Kingdom, Incognito. Yang berhasil memadukan jazz dengan soul, funk, fusion dan elektronika. Walau sudah seringkali tampil di Indonesia, masih saja banyak penggemar setianya yang setia antri berlama-lama menunggu penampilan mereka. Corak musik Acid Jazz -seperti juga yang disebut Jean Paul Maunick a.k.a Bluey, sang gitaris- sangat disukai pengunjung festival ini. Penampilannya membuka panggung Plenary Hall pada hari pertama (07/03) (menggantikan Matt Bianco yang batal hadir) juga hari ketiga menutup Plenary Hall tidak pernah sepi penunjung, semua asik menyimak sambil bergoyang mengikuti irama hentakan musik yang identik dengan beat drum yang stabil dan rhythm gitar Bluey yang cepat.

 

Memang tidak bisa begitu saja melupakan keunikan personel-personel yang lain. Karena semua personel yang berada dibelakang masing-masing instrumennya juga menyumbangkan suara yang tidak kalah bagusnya. Keyboard Matt Cooper yang seringkali mengejutkan dan mengeluarkan suara-suara yang tidak biasa juga tentunya rentetan brass section yang senantiasa pas mengisi pada setiap momennya.  Suara Maysa Leak, yang tebal, berat dan bertenaga hadir mengimbangi peraduan instrumen yang ada, tidak kalah juga vocal Tony Monrelle, Imaani dan Jocelyn Brown. Dibelakang instrument lainnya, juga ada Richard Bailey (drums & percussion),  Francis Hylton (bass guitar),  Sidney Gauld (trumpet), Paul Greenwood (sax & flute) dan Trevor Mires (trombone).

 

Hal yang istimewa terjadi kali ini, karena sepanjang penampilannya, Bluey mengajak vokalis wanita asal Bandung ‘Dira’ untuk ikut bernyanyi tentunya disamping ketiga vokalis fenomenal Incognito lainnya.

 

Malam terakhir menutup panggung Plenary Hall itu (09/03), Incognito membukanya dengan lagu ‘Deep Water’, dengan tempo dan beat yang slow, tapi tetap tidak membuat penonton berdiam diri menikmati alunan lagu. Lalu Dira muncul dan beradu vocal dengan Maysa Leak dalam lagu ‘Talking Loud’. Walau terdengar tidak sekuat Maysa, namun applauses penonton tetap terdengar riuh terlebih disaat Dira melantunkan vocalnya. Dilanjutkan dengan beberapa lagu diantaranya, ‘Nights over Egypts’, ‘Dont you worry bout a thing’, ‘Everyday’ dan diakhiri dengan hits yang paling populer ‘Still a friend of mine’.

 

Beberapa kali juga Bluey mengajak penonton untuk ikut bernyanyi bersama-sama disela lagunya. Puncaknya pada lagu terakhir, ketika ia membagi penonton menjadi dua bagian, A dan B. Bagian A melantunkan irama rhythm, sedang yang B menyanyikan refrain ‘still a friend of mine’. Mungkin bagian inilah yang akan membekas dihati para pecinta Incognito.

 

‘Tulisan ini juga bisa dilihat di http://www.wartajazz.com

Siapa yang tidak mengenal kuartet vocal berkelas international ini. Didunia jazz, bisa dibilang namanya merupakan ukuran atau barometer untuk sebuah grup vocal. Oleh karenanya tidak heran kalau penampilan mereka pada panggung Plenary Hall JCC pada hari kedua (08/03) Dji Sam Soe Super Premium Java Jazz Festival 2008 ini bisa dibilang merupakan puncak dari segala performer yang ada. Ribuan penonton memenuhi ruang pertunjukan utama festival ini dan terpukau oleh olah vokal masing-masing personel.

 

Terdiri dari empat orang penyanyi yang sudah tidak diragukan lagi keabsahannya didunia tarik suara, diantaranya Cheryl Bentyne, Tim Hauser, Alan Paul dan Janis Siegel. Kiprah keempat personel ini telah membuat Manhattan Transfer dianugrahi koleksi Grammy Award dari para penggemarnya diseluruh dunia. Ditambah hitsnya yang senantiasa menghiasi puncak tangga lagu berbagai media audio, audio video dan cetak diseluruh dunia.

 

Dibuka dengan lagu ‘Birdland’, yang awalnya adalah sebuah komposisi instrumental ciptaan Joseph Zawinul dalam album grup fusion Weather Report yang dibawakan dengan tambahan lirik lagu dari Jon Hendricks. Dilanjutkan dengan repertoar international hits mereka lainnya seperti ‘Route 66’ yang pertama kali dipopulerkan The Nat King Cole Trio, ‘Candy’ yang begitu mellow juga ‘Java Jive’ dan ‘Soulfood To Go’. Tidak lupa tentunya nomor pop yang begitu akrab ditelinga, ‘Smile Again’, koor penonton terdengar begitu menghayati setiap bait dari lagu ini. Yang menjadi ciri khas, seringkali mereka melakukan vocalese (memberikan lirik) terhadap lagu-lagu instrumental, seperti yang dilakukan dalam lagu ‘Tutu’ (The New Juju Man) yang diambil dari album Miles Davis, pada lagu ini juga Cheryl Bentyne begitu berhasil menggabungkan suaranya dengan suara terompet yang begitu keras. Juga ‘Twilight Zone’ dengan iringan irama swing yang berkejar-kejaran. 

 

Mengajak pasukan personel yang terdiri dari Yaron Gershovsky (piano/musical director), John B Williams (Bass), Joel Roesenblatt (Drums) dan Clive Lendich (Guitar).

 

Yang cukup mengejutkan terjadi ketika tiba-tiba mereka memanggil Kenny ‘Baby Face’ Edmonds kepanggung. Kontan penonton terkejut dan teriak memberikan applause terhadap Kenny yang memakai setelan jas putih. Hanya memberikan sapaan ‘halo’, lalu kembali kebelakang panggung. Hal ini mungkin sebagai gimmick, mengingatkan kalau ia akan tampil keesokan malamnya pada panggung yang sama, mengingat kehadiran Bobby Caldwell pada hari sebelumnya tidak begitu dipenuhi penonton.

 

Meski Manhattan Transfer sudah melampaui tiga dekade dalam kiprahnya didunia tarik suara. Tetap masih memiliki kualitas lantunan vokal yang optimal.

 

‘Tulisan ini juga bisa dilihat di http://www.wartajazz.com

Baby FaceMeskipun ia bukan merupakan bagian dari schedule liputan saya, tapi tangan saya gatal untuk tidak menulis tentang dia. Terang saja, sepertinya memang dialah yang paling ditunggu di DSSP Java Jazz 2008 kali ini. Tidak heran juga kalau tiket special shownya paling mahal diantara yang lainnya.

 

Yang begitu saya ingat, adalah ‘Change the World’ soundtrack film ‘Phenomenon’, duetnya dengan Eric Clapton sang dewa gitar sering menghiasi MTV Asia, terlebih saya adalah fans setianya MTV Asia Hit List era Mike Kasem dan Nadya Hutagalung. Selebihnya ya hanya lewat saja..

 

Malam itu, (09/03) di Plenary Hall saya seperti terbawa suasana, walau pertunjukannya telat kalau tidak salah sekitar setengah jam. Tapi saya bisa masuk pas pada lagu pertama ‘Knockin’ on Heavens Door’ tanpa harus berantri ria. Beberapa teman wartawan saya bilang tidak bisa masuk, karena mungkin sudah penuh. Lalu yang saya ingat dilanjutkan lagi dengan ‘Every time I Close My Eyes’.

 

Selanjutnya saya lupa, karena memang sengaja tidak mengingat apalagi mencatatnya. Namun yang paling diingat pada saat medley ‘Can We Talk’nya Tevin Campbell, juga ‘I’ll Make Love To You’ dan ‘End of the Road’nya Boyz II Men. Oh ya, juga ‘Breath Again’nya Toni Braxton.

 

Berbeda dengan lainnya, sepertinya dia adalah artis yang paling komunikatif dengan penonton. Mungkin juga karena dia begitu mempesona dihati para wanita. Terlebih ketika ia juga bercerita tentang masa kecilnya, bagaimana ia mengenal musik, menyukai wanita sejak kindergarden, first kiss-nya, even in love with his hot teacher, bahkan ia juga lupa berapa kali dan kepada siapa saja ia pernah jatuh cinta.

 

Hal-hal seperti itulah yang membuat penonton menjadi begitu akrab dengannya. Selera humornya keluar ketika ia memanggil teknisi gitarnya ‘Gary’ untuk mengambilkan gitarnya. Ia menyuruh Gary yang berlalu begitu saja setelah memberikan gitar, untuk menyapa penonton. He said ‘It’s rude.. this is Indonesia..’ then Gary said ‘Hello..’. Semua penonton tertawa, begitu juga saya..

 

Kenny yang malam itu menggunakan setelan jas berwarna hitam akhirnya membawakan ‘Change the World’ with his guitar. Man I just realized that he is ‘kidal’. Saya selalu salut kepada pemain gitar yang bermain secara kidal, karena tentu itu tidak mudah. Lalu diakhiri dengan ‘When Can I See You Again’.

 

Pasukan yang ia bawa sebanyak 14 orang, diantaranya James D Johnson (Tour Manager), Robert L. Lewis (Keyboard & MD), Sasha Allen (Featured Vocalist), Brian A. Frasier (Drums), Ethan Farmer (Bass Guitars), Michael Ripoll (Guitars), William Lotzko (Production Manager), David A Kaniski (Lighting Director), Kevin Sproatt (FOH Sound Engineer), Robert F McCrillis (Drum Technician), Kevin A Cofield (Keyboard Tech & Pro Tools Operator), Gary M Williams (Guitar Technician),  Michael P Mule (On Stage Monitor Engineer) dan Daryl Simmons.

Kalau beberapa waktu lalu kita sering mendengar ‘Tiga Diva’ dengan hits-hitsnya baik diradio maupun televisi, kali ini muncul lagi grup vokal sejenis beranggotakan lima wanita cantik yang sudah punya nama dalam dunia tarik suara di Indonesia. Mereka diantaranya Rieka Roeslan, Iga Mawarni, Andien, Yuni Shara dan Nina Tamam, menamakan diri mereka ‘Lima Wanita’. Hal yang berbeda dari ‘Tiga Diva’ adalah, karena mereka hadir dengan membawa misi sosial mewakili dunia wanita mereka.

 

Penampilan mereka diiringi the troubadour pada ajang Dji Sam Soe Super Premium Java Jazz Festival 2008 di panggung Cendrawasih 2 & 3 hari ketiga (09/03) cukup mengundang keingintahuan banyak pengunjung festival tahunan ini. Terbukti dengan penuhnya suasana ruangan tersebut oleh penonton yang hadir. Keriuhan penonton yang asik menikmati kehadiran lima wanita ini, terlebih lagu-lagu  yang mereka bawakan adalah merupakan hits dari masing-masing personel. Seperti Andien yang membawakan hitsnya ‘Menjelma’, lalu Nina Tamam yang membawakan lagu ciptaan Rieka Roeslan ‘Cinta Setia’ dilanjutkan Rieka Roeslan yang juga membawakan lagu berjudul ‘Sipantun’ yang akan dikeluarkan pada album solo selanjutnya. Pada lagu ini, Rieka mengajak penonton untuk ikut bergoyang mengikuti lirik refrain “kuberputar kiri kanan.. tangan diawang tepukkan…” dan irama lagu. Tetapi karena situasi ramainya penonton, sehingga tidak memungkinkan untuk bergoyang dan berputar mengikuti ajakan Rieka, lalu penonton hanya menggoyang dan memutar tangannya keatas saja. Tetapi tidak mengurangi keriuhan antusiasme penonton menikmati lagu.

 

Terakhir, mereka membawakan lagu yang diciptakan Rieka Roeslan sebagai single dari ‘Lima Wanita’ ini, berjudul ‘Wanita’. Pada lagu ini, layar dipinggir panggung yang biasanya menampilkan gambar yang sedang terjadi dipanggung, diganti untuk memutar video klip dari lagu ini. Rieka sengaja menciptakan lagu ini, agar para wanita Indonesia bangga dengan profesinya. Walaupun sebagai ibu rumah tangga, kadang mereka malu mengakui profesinya. Padahal profesi itu sulit dan tidak semua orang bisa melakukannya.

 

Kehadiran mereka dibawah bendera ‘Lima Wanita’ juga merupakan kampanye sosial dalam rangka memberikan perhatian lebih kepada para wanita. “Ada banyak penindasan atau ancaman terhadap perempuan, seperti masalah kanker, penjualan wanita dan masih banyak lagi. Kita ingin mengingatkan pemerintah terhadap masalah ini dan kita juga ingin membantu menyelamatkan mereka,” begitu tutur Iga sewaktu konferensi pers festival ini (04/03) di The Sultan Hotel. Kedepan rencananya mereka akan melakukan aksi sosial seperti membuka klinik gratis untuk wanita berkaitan dengan aksi penyelamatan wanita ini. Klinik ini akan dibuka untuk wanita yang menderita kangker dan penyakit lainnya, tetapi tidak mampu membiayai perawatan rumah sakit yang begitu mahal, disamping juga memberikan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan hal-hal serupa yang berkaitan dengan kewanitaan lainnya. Hal serupa juga diamini keempat personel lainnya yang juga mempunyai misi yang sama.

 

Sungguh suatu misi sosial yang mulia. Dimana selain sebagai sarana hiburan, musik juga tidak hanya dibuat, dinyanyikan, direkam, lalu dijual dan selesai. Melainkan juga bisa dijadikan sebagai sarana kampanye sosial kepada masyarakat, dalam hal ini wanita khususnya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.